EDUKASI KEUANGAN

Pilih-pilih Opsi Membiayai Pendidikan Anak

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Sabtu, 07/09/2019 10:00 WIB
Pilih-pilih Opsi Membiayai Pendidikan Anak Ilustrasi Wisuda. (ANTARA FOTO/Embong Salampessy).
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap orang tua pasti ingin buah hatinya memperoleh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan, umumnya peluang sang anak untuk meraih masa depan yang cerah pun semakin besar.

Hanya saja, biaya kuliah kian hari kian mahal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, biaya kuliah selalu menjadi penyumbang inflasi setiap awal tahun ajaran baru dimulai. Bahkan, inflasi secara tahunan bisa mencapai 15 persen.

Biaya pendidikan di Indonesia kini bahkan terbilang salah satu yang tertinggi di dunia. Berdasarkan survei HSBC pada 2018 lalu, Indonesia menempati peringkat ke-13 dari daftar negara-negara dengan biaya pendidikan tertinggi di dunia.

Dari survei tersebut, orang tua Indonesia rata-rata mengeluarkan biaya pendidikan sebesar US$20 ribu atau Rp280 juta untuk menyekolahkan anaknya dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Angka ini sejatinya masih jauh lebih rendah dari Hong Kong yang memiliki jumlah biaya pendidikan termahal dengan rata-rata biaya US$130 ribu.

CNNIndonesia.com kemudian juga mencari data-data biaya kuliah di perguruan tinggi favorit dalam negeri.

Di Universitas Indonesia (UI), misalnya, Uang Kuliah Tunggal (UKT) termahal untuk Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOPB) tercatat Rp7,5 juta untuk kelompok IPA dan Rp5 juta untuk kelompok IPS. Namun, biaya lebih mahal ditetapkan untuk Biaya Operasional Pendidikan Pilihan (BOPP), di mana tarifnya mencapai Rp20 juta untuk jurusan kelompok IPA dan Rp17,5 juta untuk kelompok IPS.

Sementara itu, Universitas Gajah Mada (UGM) menerapkan UKT paling tinggi untuk Fakultas Kedokteran dengan tarif Rp26 juta. Tentu saja, semua biaya tersebut tak termasuk dengan iuran semester.

Di sisi lain, perguruan tinggi swasta seperti Universitas Pelita Harapan (UPH) paling mahal menetapkan biaya pendidikan sebesar Rp653 juta untuk kelompok pendidikan ilmu kesehatan. Sementara itu, biaya pendidikan termurah ditetapkan untuk rumpun sosial dan bisnis dengan rentang biaya Rp167 juta hingga Rp231 juta.

Melihat beberapa kondisi tersebut, tentu orang tua perlu mempersiapkan dana pendidikan tinggi bagi anaknya jauh-jauh hari.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad mengaku tak jarang mendapat klien yang pusing dalam membiayai pendidikan tinggi buah hatinya. Sebagian besar pangkal masalahnya adalah biaya kuliah itu tidak dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.

Maka itu, orang tua sebaiknya mempersiapkan dana pendidikan, terutama perguruan tinggi, sejak anak itu lahir. Dalam hal ini, orang tua bisa memilih dua produk finansial, yakni tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan.

Namun, sebelum orang tua memilih dua produk tersebut, ada beberapa konsiderasi yang nantinya mempengaruhi biaya pendidikan sang anak ke depannya.

Pertama, orang tua harus punya visi yang jelas, apakah sang anak akan disekolahkan di dalam negeri atau luar negeri. Tentu saja, orang tua harus berani menyisihkan uang lebih banyak jika ingin anaknya menempuh pendidikan di luar negeri lantaran biayanya tentu lebih mahal.

Kedua, orang tua juga harus menghitung tambahan-tambahan biaya lain di luar biaya pokok perguruan tinggi. Misalnya, biaya bimbingan belajar jelang kuliah, biaya indekos, hingga biaya buku yang diperlukan untuk perkuliahan.

Setelah menghitung-hitung estimasi kebutuhan tersebut, maka orang tua bisa mempersiapkan kebutuhan dananya.

"Sebaiknya biaya perguruan tinggi ini dipersiapkan sejak anaknya lahir. Jangan sampai persiapan biaya pendidikan ini mendadak dan sangat mepet dengan waktu kuliah," jelas Tejasari.

Setelah mendapatkan estimasi biaya, orang tua tinggal memilih, apakah ingin mempercayakan uangnya ke tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Orang tua harus mengetahui perbedaan dua produk tersebut demi mengetahui risikonya masing-masing.

Untuk tabungan pendidikan, lanjut Tejasari, memiliki bunga yang pasti dan tabungan harus dijalankan hingga tenggat waktu yang diharapkan.
Kemudian, tabungan pendidikan biasanya juga disertai dengan asuransi jiwa, sehingga jika nanti sang orang tua meninggal di tengah-tengah masa menabung, nantinya tabungan masih bisa diteruskan.

Sementara itu, asuransi pendidikan adalah kebalikannya. Orang tua membeli asuransi dengan membayar premi per bulan, juga disertai tabungan. Terdapat dua jenis asuransi pendidikan, yakni endowment dan unitlink.

Untuk asuransi endowment, fasilitas yang didapatkan adalah asuransi jiwa dalam bentuk perlindungan bagi sang anak jika nanti orang tua mengalami cacat atau meninggal di kemudian hari. Namun, hal ini dilengkapi dengan tabungan yang mirip tabungan berjangka, di mana angka tabungannya punya nilai pasti dan ada jaminan bisa dicairkan setiap jangka waktu tertentu.

Untuk asuransi unitlink, sejatinya fasilitas yang didapatkan serupa dengan asuransi endowment. Namun, uang orang tua dipotong besar di awal program untuk keperluan investasi. Nantinya, imbal hasil yang didapatkan bisa saja besar atau kecil tergantung kondisi di pasar modal.

"Nah, unitlink ini justru memiliki risiko yang tinggi. Memang hasil investasinya bisa besar, tapi kalau pasar modal crash hasil investasinya bisa turun banget. Sementara di sisi lain, tabungan pendidikan ini return-nya cukup kecil, jadi tinggal bagaimana orang tua menyesuaikan profil risikonya dengan produk yang tersedia saat ini," ujarnya.

Namun, jika orang tua tak punya tabungan atau asuransi pendidikan, bukan berarti orang tua kehilangan harapan untuk menyekolahkan anaknya di jenjang perguruan tinggi. Orang tua masih punya alternatif pendanaan lain.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan pendanaan kuliah paling aman selain menabung adalah menjual aset. Terdapat beberapa contoh aset yang pencairannya terbilang cepat, seperti logam mulia dan kendaraan.

Namun, jangan sampai orang tua mengorbankan aset krusial seperti rumah hingga tanah. Kalau pun mau, tentu harus dipikirkan matang-matang konsekuensi lanjutannya.

"Dulu pengalaman saya kuliah, banyak teman-teman saya yang orang tuanya menjual aset dari mulai sawah sampai mobil. Tapi is it worth it? Lebih baik pertimbangkan dulu sebelum benar-benar kehilangan aset berharga," jelas dia.

Namun, jika orang tua kian terdesak tak punya uang untuk biaya pendidikan, maka orang tua bisa mencoba untuk meminjam. Saat ini, lanjut dia, banyak lembaga keuangan yang menyediakan pembiayaan kuliah dengan tipe seperti kredit multiguna. Menurut Andi, kredit ini sah-sah saja diambil, lantaran bunganya juga masih wajar.

Hanya saja, ia tak menyarankan orang tua untuk meminjam ke perusahaan teknologi finansial (fintech). Bunga yang besar dan laporan tentang cara penagihan yang kadang bikin stress tentu menimbulkan risiko yang juga besar.

"Tentu sebagai orang tua harus pintar-pintar melihat risiko. Jadi kalau memang tak punya tabungan atau asuransi pendidikan, tentu tahap kedua adalah lihat aset yang bisa dijual. Kalau masih belum memenuhi, meminjam uang juga bukan hal yang salah, asal mengerti risikonya dan bisa mengembalikannya," pungkas Andi.

[Gambas:Video CNN]


(lav)