Strategi yang disusun pemerintah, lanjut Darmin, agar ekonomi nasional tak terdampak gejolak ekonomi global, sehingga masih bisa tumbuh positif. "Ada atau tidak resesi, kami harus mempersiapkan diri, membenahinya. Ibaratnya, sedia payung sebelum hujan," ujar Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/9).
Kendati demikian, ia enggan merinci berbagai jurus yang sedang disiapkan. Yang pasti, ia menekankan jurus tersebut merupakan kombinasi kebijakan yang melibatkan regulator industri keuangan, seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maklum, sumbangan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbesar berasal dari indikator konsumsi rumah tangga. Cara lain, dengan memastikan agar inflasi atau kenaikan harga kebutuhan pokok tetap terjaga rendah.
"Pemerintah juga mendorong investasi, pembangunan proyek infrastruktur dan proyek strategis nasional harus dilaksanakan untuk mendorong pergerakan investasi," terang Bambang.
Sebelumnya, Bank Dunia melalui paparan yang beredar di publik memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 4,9 persen pada 2020. Bahkan, lembaga ekonomi internasional itu memproyeksi ekonomi Tanah Air kian suram hingga menyentuh 4,6 persen pada 2022.
Ini terjadi karena perlambatan pertumbuhan ekonomi global di tengah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta memanasnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan.
"Perlambatan ekonomi global menyebabkan harga komoditas lebih rendah yang akan menekan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih jauh lagi," tulis Bank Dunia dalam paparannya.
[Gambas:Video CNN] (uli/bir)