Perang Dagang, Luhut Salahkan Kebijakan Dagang AS

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 14:53 WIB
Perang Dagang, Luhut Salahkan Kebijakan Dagang AS Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan salahkan kebijakan AS dalam perang dagang. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menilai defisit perdagangan yang melanda Amerika Serikat (AS) dengan China merupakan kesalahan dari pemerintah Negeri Paman Sam. Kesalahan dilakukan dengan menerbitkan aturan perdagangan yang keliru.

"Melihat defisit perdagangan AS dengan China, ini kesalahan AS yang memberikan peluang yang banyak bagi China," ucap Luhut, Kamis (12/9).

Ia menyebut bahwa AS mengalami defisit perdagangan dengan China ratusan triliun. Hal ini membuat AS mengubah kebijakan perdagangannya kepada China dengan mengenakan berbagai tarif, sehingga terjadi perang dagang antar keduanya.


"Masalah dunia ini, peningkatan eskalasi perang dagang AS dan China memiliki dampak besar ke global," terang dia.

Diketahui, neraca dagang AS dengan China tercatat mengalami defisit US$357,23 miliar atau sekitar Rp5.000 triliun lebih sepanjang 2017. Presiden AS Donald Trump sempat menuduh defisit terjadi karena kecurangan dagang yang dilakukan China terhadap negaranya.

Atas tuduhan tersebut, pemerintahannya melancarkan serangan dagang terhadap China sejak 2018 lalu. Sampai saat ini perang dagang masih berkecamuk dan belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Akibat perang dagang tersebut, sejumlah lembaga di dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi. Dana Moneter Internasional (IMF) misalnya, memangkas proyek pertumbuhan ekonomi global 2019 sebesar 0,2 persen menjadi hanya 3,3 persen.

Bahkan, IMF mengingatkan jika ekonomi dunia bisa saja tumbuh lebih lamban dari proyeksi tersebut jika perang dagang AS dan China tidak segera berakhir. Luhut berpendapat konflik perdagangan AS dan China juga akan berdampak pada kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga, pemerintah, investasi, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi domestik.

[Gambas:Video CNN]
Pasalnya, perang dagang membuat harga komoditas yang saat ini masih jadi andalan Indonesia, turun. Jika harga terus melemah, maka kinerja ekspor akan semakin surut, sehingga berdampak negatif pada daya beli masyarakat dan ekonomi dalam negeri.

"Pemerintah lihat neraca perdagangan negatif sejak kuartal I 2019 di tengah penurunan harga komoditas," ucap Luhut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit per Juli 2019 sebesar US$63,5 juta. Realisasi itu memburuk dari Juni 2019 yang masih surplus sebesar US$200 juta.

Nilai ekspor Indonesia meningkat 31,02 persen menjadi US$15,45 miliar. Namun, kenaikannya masih kalah dengan impor yang mencapai 34,96 persen menjadi US$15,51 miliar.

(aud/agt)