Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan target itu diharapkan bisa tercapai melalui kerja sama asosiasi pengusaha Indonesia dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Amerika Serikat (AS) atau U.S Chamber of Commerce.
Luhut bilang seluruh pihak akan meneken perjanjian kerja sama pada Oktober 2019 mendatang. Rencananya, kerja sama akan dilakukan dalam kurun waktu 1,8 tahun atau sampai 2021 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kerja sama ini dilakukan guna memanfaatkan peluang dari perang dagang antara AS dan China. Maklum, sejumlah ekspor China mulai berkurang ke Negeri Paman Sam itu seiring dengan kenaikan tarif yang diberikan kepada China.
"Ekspor industri yang keluar dari AS itu hampir US$200 miliar lebih, nah kami mau cari target nih bisa tidak 10 sampai 20 persennya diambil oleh Indonesia. Jadi kalau US$20 miliar saja bisa dapat," jelas dia.
"Untuk sekarang kan memang sudah suplai untuk tekstil. Dari sisi manufaktur memang tinggi. Kami yakin bisa lebih tinggi lagi, dua sampai tiga kali lipat," terangnya.
Anne menuturkan total ekspor tekstil ke AS tahun lalu sebesar US$5 miliar. Ia memprediksi angkanya meningkat tahun ini.
Sebelumnya, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi mengatakan upaya ini dilakukan guna menggantikan posisi China yang biasanya banyak melakukan ekspor ke AS. Menurutnya, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menggenjot ekspornya ke AS.
"Kami ingin menggantikan peranan China sebagian, ini kan besar sekali yang dia (AS) perlukan. Nah ini yang kami mau gantikan," pungkas Sofyan. (aud/evn)