Pagi hari ini, mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,03 persen, yen Jepang melemah 0,06 persen, baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, peso Filipina melemah 0,22 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,32 persen.
Di kawasan Asia, hanya dolar Hong Kong saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,03 persen. Mata uang negara maju seperti dolar Australia melemah sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS dan poundsterling Inggris pun melemah 0,07 persen. Namun, di sisi lain, euro menguat 0,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah. Dibayangi risiko depresiasi, rupiah tentu tidak menjadi pilihan," jelas Ibrahim, Selasa (17/9).
Hanya saja, masih ada angin segar yang menyokong pergerakan rupiah pada hari ini. Salah satunya, pelaku pasar menunggu hasil pertemuan bank sentral Jepang dan AS pada pekan ini. Bahkan, pelaku pasar masih meramal bahwa bank sentral AS The Fed akan menurunkan suku bunga acuan pada Jumat (20/9) mendatang.
Kemudian, pelaku pasar juga menyoroti pertemuan antara AS dan China ihwal negosiasi perang dagang pada bulan depan. "Sehingga rupiah pada hari ini ada di rentang Rp13.990 hingga Rp14.070 per barel," jelas dia.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)