"Ada banyak perkembangan yang telah dilakukan untuk mempersiapkan IPO. IPO (sedang) ada di broker," ujar CEO Aramco Amin Nasser seperti dikutip dari CNN Business, Rabu (18/9).
Nasser menyebut Pemerintah Arab Saudi tidak menahan rencana terkait IPO perusahaan migas pelat merah ini dan mengindikasikan akan tetap melanjutkan sesuai rencana semula.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Produksi kami akan kembali ke (level) sebelum serangan pada akhir bulan ini," katanya.
Sementara, Reuters melaporkan beberapa investor dan analis ragu perusahaan dapat mengikuti jadwal IPO semula akibat serangan tersebut.
Direktur Investasi Royal London Asset Management Piers Hilliers mengungkapkan penundaan IPO merupakan langkah logis selagi perusahaan menghitung kerusakan yang terjadi.
"Terlepas dari itu, kami memperkirakan premi risiko yang diinginkan investor jika IPO berlanjut sekarang akan lebih besar," ujar Hillier.
Menurut sumber Reuters, jika tidak ada penundaan, IPO paling cepat dilakukan pada November 2019 mendatang.
"Bank-bank terus mengerjakan proses (IPO) itu hingga mereka (Aramco) meminta hal sebaliknya. Rasanya, mereka ingin menyelesaikan proses ini secepat mungkin," ujar sumber Reuters yang lain.
Melalui IPO tersebut, Aramco akan menjual 1 persen sahamnya untuk memperoleh pendanaan sebesar US$20 miliar tahun ini. Kemudian, tahun depan, perusahaan akan kembali menawarkan 1 persen sahamnya ke pasar internasional.
Sebagai informasi, serangan terhadap dua fasilitas minyak Aramco menyebabkan hilangnya produksi minyak 5,7 juta barel per hari. Jumlah itu setara dengan 5 persen dari pasokan dunia.
[Gambas:Video CNN] (hns/sfr)