Saudi Aramco Tak Tunda IPO Walau Fasilitas Minyak Diserang

CNN Indonesia | Rabu, 18/09/2019 13:00 WIB
Saudi Aramco Tak Tunda IPO Walau Fasilitas Minyak Diserang Ilustrasi. (REUTERS/Hamad I Mohammed).
Jakarta, CNN Indonesia -- Saudi Aramco (Aramco) menyatakan tidak akan menunda penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) meski dua fasilitas minyak perusahaan diserang oleh pesawat tanpa awak (drone) pada Sabtu (14/9) lalu.

"Ada banyak perkembangan yang telah dilakukan untuk mempersiapkan IPO. IPO (sedang) ada di broker," ujar CEO Aramco Amin Nasser seperti dikutip dari CNN Business, Rabu (18/9).

Nasser menyebut Pemerintah Arab Saudi tidak menahan rencana terkait IPO perusahaan migas pelat merah ini dan mengindikasikan akan tetap melanjutkan sesuai rencana semula.


Nasser optimistis untuk tetap menawarkan saham kepada publik meski perusahaan mendapatkan serangan selama lima bulan terakhir. Pasalnya, dari sisi kinerja, Nasser membanggakan perusahaannya sebagai salah satu perusahaan yang paling andal di kancah global selama tiga tahun terakhir.

"Katakan kepada kami perusahaan lain yang mampu melanjutkan dan menjaga produksi di tengah berbagai serangan," jelasnya.

Saat ini, sambung ia, proses pemulihan produksi Aramco sudah hampir 70 persen dengan perusahaan yang menyokong hingga US$200 ribu per jam untuk perbaikan. Hal ini, menurut ia, membuktikan perusahaannya dapat memberi pelayanan bahkan dalam skenario terburuk.

"Produksi kami akan kembali ke (level) sebelum serangan pada akhir bulan ini," katanya.

Sementara, Reuters melaporkan beberapa investor dan analis ragu perusahaan dapat mengikuti jadwal IPO semula akibat serangan tersebut.

"(Serangan) ini merupakan kejadian yang cukup besar dan banyak hal akan bergantung pada seberapa cepat upaya memperbaiki kerusakan yang terjadi," ujar salah satu sumber Reuters dari kalangan bankir.

Direktur Investasi Royal London Asset Management Piers Hilliers mengungkapkan penundaan IPO merupakan langkah logis selagi perusahaan menghitung kerusakan yang terjadi.

"Terlepas dari itu, kami memperkirakan premi risiko yang diinginkan investor jika IPO berlanjut sekarang akan lebih besar," ujar Hillier.

Menurut sumber Reuters, jika tidak ada penundaan, IPO paling cepat dilakukan pada November 2019 mendatang.

Sumber Reuters mengabarkan Aramco akan bertemu dengan para bankir yang mengurus proses IPO pada pekan ini. Sebagai catatan, bank bertugas untuk menentukan valuasi saham hingga mengatur roadshow penawaran.

"Bank-bank terus mengerjakan proses (IPO) itu hingga mereka (Aramco) meminta hal sebaliknya. Rasanya, mereka ingin menyelesaikan proses ini secepat mungkin," ujar sumber Reuters yang lain.

Melalui IPO tersebut, Aramco akan menjual 1 persen sahamnya untuk memperoleh pendanaan sebesar US$20 miliar tahun ini. Kemudian, tahun depan, perusahaan akan kembali menawarkan 1 persen sahamnya ke pasar internasional.

Sebagai informasi, serangan terhadap dua fasilitas minyak Aramco menyebabkan hilangnya produksi minyak 5,7 juta barel per hari. Jumlah itu setara dengan 5 persen dari pasokan dunia.
[Gambas:Video CNN] (hns/sfr)