Sebelumnya, resesi ekonomi adalah kondisi di mana perekonomian yang tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) menurun dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.
"Saya harapkan kami coba mengarahkan pembangunan ibu kota baru adalah countercyclical (penyangga) untuk menghadapi resesi tahun depan," ucap Bambang, Rabu (18/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Ibu kota baru) ini dibangun untuk 1,5 juta orang. Nah, otomatis pembangunan ibu kota baru menjadi salah satu kota terbesar di Kalimantan Timur, sehingga wajar kalau investasi riil naik hampir 50 persen," ujar Bambang.
Menurutnya, beberapa provinsi lain yang akan kecipratan investasi langsung dari pemindahan ibu kota adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah, Indonesia bagian timur, dan DKI Jakarta. "Sulawesi Selatan paling besar (kecipratan investasi langsung), lalu Sulawesi Tenggara," imbuhnya.
Dalam jangka pendek, investasi itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 7,3 persen, Pulau Kalimantan 4,7 persen, dan Indonesia 0,6 persen. Sementara, jangka menengah dan panjang bisa mendorong ekonomi Kaltim sebesar 6,8 persen, Pulau Kalimantan 4,3 persen, dan nasional 0,02 persen.
Sebagai informasi, pemerintah memasang beberapa skema pendanaan untuk membangun ibu kota baru. Adapun total dana yang dibutuhkan untuk memindahkan ibu kota baru diperkirakan mencapai Rp466 triliun.
Bambang menargetkan sebanyak Rp253,4 triliun atau 54,4 persen dari total dana yang dibutuhkan akan dipenuhi melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Lalu khusus swasta sebesar Rp123,2 triliun atau 26,4 persen dan APBN hanya Rp89,4 triliun atau 19,2 persen.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)