Pertamina Belum Tahu Penyebab Kebocoran Minyak di Karawang

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 16:42 WIB
Pertamina Belum Tahu Penyebab Kebocoran Minyak di Karawang Ilustrasi pencemaran minyak Pertamina di Pantai Karawang. (ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) menyatakan sampai saat ini belum mengetahui penyebab kebocoran minyak di Karawang. Padahal, kebocoran sudah terjadi sejak tiga bulan lalu.

Direktur Operasi dan Produksi sekaligus Commander Incident PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Taufik Adityawarman mengatakan perseroan tengah fokus pada penutupan sumur YYA-1 yang merupakan sumber tumpahan minyak.

"Saat ini investigasi internal masih berlangsung, kami belum dapat update dari tim untuk penyebabnya apa," katanya, Jumat (20/9).


Ia bilang Pertamina telah melakukan pengeboran relief well (sumur baru) YYA-1 RW guna menutup sumur lama. Pengeboran sumur baru telah mencapai kedalaman 2.736 meter dengan jarak sumur lama dengan sumur baru di bawah tanah tersisa 46 sentimeter.

Saat ini, sambung dia, Pertamina memasuki tahapan menemukan dan meng-intercept (menyumbat) lubang sumur YYA-1. Penyumbatan dilakukan dengan cara memompa lumpur berat ke dalam sumur baru, YYA-1 RW dengan tujuan mematikan sumur lama, YYA-1.

Setelah sumur YYA-1 dinyatakan mati akan dilakukan monitoring selama 24 jam sebelum dilanjutkan ke proses plug and abandon atau penutupan sumur secara permanen.

"Ini merupakan salah satu proses yang penting, sehingga harus dilakukan sangat hati-hati. Harapannya akhir September atau paling lambat awal Oktober, sumur sudah bisa ditutup permanen," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan investigasi penyebab kebocoran baru dapat dilakukan secara menyeluruh apabila tim investigator bisa masuk dalam rig atau anjungan. Ini dimungkinkan jika sumur lama, YYA-1 telah ditutup secara permanen.

[Gambas:Video CNN]

"Setelah sumur ini disumbat investigasi bisa dilanjutkan secara konklusif. Jadi mohon kesabarannya. Kami pastikan setelah sumur bisa diisolasi dan aman untuk dinaiki maka investigasi akan dilanjutkan secara lebih detail," ujarnya.

Kebocoran minyak itu berawal dari munculnya gelembung gas saat berlangsung kegiatan pengeboran sumur YYA 1 pada pukul 1.30 dini, Jumat (12/7).

Sejak saat itu, Pertamina melakukan berbagai upaya penanganan tumpahan minyak. Pertamina menyatakan tumpahan minyak secara kumulatif yang berhasil ditangani perseroan mencapai 39.685 barel pada offshore (lepas pantai) per 19 September.

Sedangkan di sisi darat, tumpahan minyak yang bercampur dengan pasir mencapai 5.535.627 karung secara kumulatif.

"Dari jumlah itu yang sudah dikirim ke pengolahan limbah mencapai 5.532.262 karung," katanya.

(ulf/agt)