Bahkan, realisasi nilai ekspor batik Indonesia kalah jauh dibandingkan nilai perdagangan produk pakaian jadi di dunia yang mencapai US$442 miliar. "Ini menjadi peluang besar bagi industri batik kita (Indonesia) untuk meningkatkan pasarnya," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Gati Wibawaningsih, mengutip Antara, Selasa (24/9).
Saat ini, ekspor batik RI masih ditujukan ke pasar Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Sektor ini sendiri didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar di 101 sentra di Indonesia, dengan jumlah usaha 47 ribu unit. "Industri ini menyerap tenaga kerja hingga 200 ribu orang," jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengakuan ini membawa konsekuensi kepada pemerintah maupun organisasi, seperti Yayasan Batik Indonesia untuk terus menerus secara nyata melestarikan dan mengembangkan produk baik," terang Gati.
Menteri Perindustrian AIrlangga Hartarto menuturkan Yayasan Batik Indonesia dapat mendekati kaum milenial dengan melakukan digitalisasi, memanfaatkan media sosial untuk kemajuan batik nasional, termasuk memanfaatkan teknologi.
Misalnya, ia mencontohkan lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) Kemenperin, yaitu Balai Besar Kerajinan dan Batik, saat ini sudah mampu mengembangkan aplikasi Batik Analyzeruntuk untuk membedakan produk batik asli dan tiruan.
[Gambas:Video CNN] (antara/bir)