Emiten Properti Melantai di Bursa, Harga Saham Naik 50 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 11:03 WIB
Emiten Properti Melantai di Bursa, Harga Saham Naik 50 Persen Ilustrasi IHSG. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan pengembang properti PT Nusantara Almazia Tbk mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (25/9).

Perseroan menawarkan harga ke publik senilai Rp200 per saham pada pencatatan perdana. Saat pembukaan perdagangan, harga saham Nusantara Almazia menguat 50 persen atau 110 poin ke level Rp330 per saham. Sahamnya diperdagangkan sebanyak 10 kali dengan volume transaksi 89 lot sehingga menghasilkan nilai transaksi Rp2,94 juta.

Perusahaan dengan kode saham NZIA itu melepas sebanyak 461,53 juta lembar saham setara 21 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah Initial Public Offering (IPO). Melalui hajatan tersebut, perseroan bakal mengantongi dana segar sebanyak Rp101,53 miliar.


Direktur Utama Nusantara Almazia Deddy Indrasetiawan mengatakan dana segar dari IPO akan digunakan untuk mengembangkan proyek perumahan dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (LFPP) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

"Melalui IPO ini perseroan akan mengakuisisi saham PT Serena Inti Sejati yang memiliki izin lokasi seluas 60 hektare (ha) di kabupaten Karawang untuk pembangunan perumahan FLPP," paparnya, Rabu (25/9).

Secara rinci disebutkan, perseroan akan menggunakan 37,36 persen dari total dana IPO untuk mengakuisisi 68 persen saham PT SIS.

Selain itu, dana IPO akan digunakan sebesar 50,54 persen sebagai modal kerja perseroan. Sedangkan, sisanya 12,10 persen akan digunakan untuk mengambil alih piutang milik Richard Rachmadi Wiriahardja kepada SIS.

"Setelah IPO kami berkomitmen akan menjalankan apa yang telah disampaikan dalam prospektus," katanya.

[Gambas:Video CNN]
Ia mengatakan perseroan tengah mengembangkan kawasan terpadu berbasis Transit Oriented Development (TOD) dalam bentuk mixed use yang bernama Poris 88 di Kawasan Tangerang. Area itu akan dikembangkan menjadi area komersial, perkantoran, hotel, rumah sakit, area retail, sekolah, dan ruko.

Sebagai informasi, hingga 31 Mei 2019 perseroan mencatatkan penurunan penjualan sebesar 49,2 persen dari Rp23,94 miliar menjadi Rp12,14 miliar.

Meski penjualan turun, perseroan mampu membukukan kenaikan laba bersih sebesar Rp3,9 miliar naik dari sebelumnya Rp35 juta pada periode yang sama tahun lalu.

(ulf/lav)