Sinyal The Fed Tahan Rupiah di Level Rp14.172 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 09/10/2019 16:50 WIB
Sinyal The Fed Tahan Rupiah di Level Rp14.172 per Dolar AS Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.172,5 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (9/10) sore. Posisi ini melemah 0,08 persen dibanding penutupan pada Selasa (8/9) yakni Rp14.161,5 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.182 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.170 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.170 per dolar AS hingga Rp14.184 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Won Korea tercatat melemah 0,39 persen, lira Turki 0,21 persen, yen Jepang 0,16 persen, dan ringgit Malaysia 0,14 persen.

Pelemahan juga terjadi pada kurs dolar Taiwan 0,06 persen dan peso Filipina 0,03 persen.

Sementara itu, penguatan terjadi pada dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, dolar Singapura 0,19 persen, yuan China 0,22 persen, dan bath Thailand 0,26 persen.

Di negara maju, sebagian besar mata uang tercatat menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,17 persen, dolar Kanada 0,18 persen, euro 0,25 persen, dan dolar Australia 0,26 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat tertahan berkat prospek pelonggaran moneter AS yang disampaikan Gubernur The Federal Reserves (The Fed) Jerome Powell pada acara Asosiasi Ekonomi Bisnis di Denver AS pekan ini.

"Tapi, pasar tetap mewaspadai hasil negosiasi dagang yang baru akan berlangsung Kamis (10/9) besok," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/10).

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengungkapkan pasar bereaksi terhadap pidato Powell yang telah mengatakan bahwa The Fed akan segera mulai memperluas neraca kembali.

"Pasar mencerna isi pidato terkait perluasan neraca pada hari Selasa (8/10) lalu," ucap Ibrahim.


Hal tersebut menunjukkan The Fed akan membatasi diri untuk membeli aset pendek dan menghindari segala upaya untuk campur tangan langsung dalam pembentukan harga untuk jatuh tempo yang lebih lama. Sebaliknya, Bank Sentral Eropa baru-baru ini berkomitmen untuk melanjutkan pembelian obligasi pemerintah 20 miliar euro per bulan.

Powell mencatat bahwa ia tidak mengesampingkan pemotongan suku bunga lagi tahun ini, tetapi menekankan bahwa Fed akan dipimpin oleh data.


Pembicaraan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa yang hampir berakhir juga mempengaruhi pergerakan rupiah. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bahwa Irlandia Utara masih akan tetap menjadi bagian dari serikat pabean dalam kesepakatan apapun.

Namun, Perdana Menteri Boris Johnson telah mengisyaratkan dia akan meminta perpanjangan batas waktu 31 Oktober, seperti yang disyaratkan oleh hukum Inggris.

"Jika dia tidak mendapatkan kesepakatan pada KTT minggu depan, pasar masih enggan untuk menentukan harga dalam skenario terburuk," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
Dari sisi domestik, terjadi penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) berdasarkan rilis yang menunjukkan pertumbuhan sebanyak 1,1 persen secara tahunan pada Agustus 2019. Presentase tersebut lebih rendah dibandingkan bulan Juli yang mencapai 2,4 persen.

Bank Indonesia pun terus melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF, walaupun intervensi tersebut dinilai kurang memuaskan akibat memanasnya kembali perang dagang antara AS dan China, serta masalah Brexit yang sampai saat ini belum ada kepastian secara hukum.

Kendati demikian, lanjut Ibrahim, upaya BI yang terus memantau perdagangan valas dan obligasi tersebut dapat menahan pelemahan rupiah.

"Keterlibatan BI yang terus memantau dan mengawasi perdagangan valas dan obligasi perlu diberi apresiasi oleh pelaku pasar sehingga pelemahan mata uang garuda tidak terlalu signifikan," katanya.

(ara/sfr)