Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.182 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.170 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.170 per dolar AS hingga Rp14.184 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Won Korea tercatat melemah 0,39 persen, lira Turki 0,21 persen, yen Jepang 0,16 persen, dan ringgit Malaysia 0,14 persen.
Pelemahan juga terjadi pada kurs dolar Taiwan 0,06 persen dan peso Filipina 0,03 persen.
Di negara maju, sebagian besar mata uang tercatat menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,17 persen, dolar Kanada 0,18 persen, euro 0,25 persen, dan dolar Australia 0,26 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi, pasar tetap mewaspadai hasil negosiasi dagang yang baru akan berlangsung Kamis (10/9) besok," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/10).
Hal tersebut menunjukkan The Fed akan membatasi diri untuk membeli aset pendek dan menghindari segala upaya untuk campur tangan langsung dalam pembentukan harga untuk jatuh tempo yang lebih lama. Sebaliknya, Bank Sentral Eropa baru-baru ini berkomitmen untuk melanjutkan pembelian obligasi pemerintah 20 miliar euro per bulan.
Powell mencatat bahwa ia tidak mengesampingkan pemotongan suku bunga lagi tahun ini, tetapi menekankan bahwa Fed akan dipimpin oleh data.
Namun, Perdana Menteri Boris Johnson telah mengisyaratkan dia akan meminta perpanjangan batas waktu 31 Oktober, seperti yang disyaratkan oleh hukum Inggris.
"Jika dia tidak mendapatkan kesepakatan pada KTT minggu depan, pasar masih enggan untuk menentukan harga dalam skenario terburuk," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
Dari sisi domestik, terjadi penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) berdasarkan rilis yang menunjukkan pertumbuhan sebanyak 1,1 persen secara tahunan pada Agustus 2019. Presentase tersebut lebih rendah dibandingkan bulan Juli yang mencapai 2,4 persen.
Bank Indonesia pun terus melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF, walaupun intervensi tersebut dinilai kurang memuaskan akibat memanasnya kembali perang dagang antara AS dan China, serta masalah Brexit yang sampai saat ini belum ada kepastian secara hukum.
Kendati demikian, lanjut Ibrahim, upaya BI yang terus memantau perdagangan valas dan obligasi tersebut dapat menahan pelemahan rupiah.
"Keterlibatan BI yang terus memantau dan mengawasi perdagangan valas dan obligasi perlu diberi apresiasi oleh pelaku pasar sehingga pelemahan mata uang garuda tidak terlalu signifikan," katanya.
(ara/sfr)