Faisal Basri Wanti-wanti Daya Saing RI Bakal Disalip Vietnam

CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 15:59 WIB
Faisal Basri Wanti-wanti Daya Saing RI Bakal Disalip Vietnam Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Faisal Basri mendesak percepatan perbaikan daya saing di Indonesia agar tidak disusul oleh Vietnam. Hal itu menjadi tanggapannya atas penurunan daya saing Indonesia.

Sebelumnya, peringkat daya saing Indonesia merosot 5 peringkat menjadi 50 dalam laporan "The Global Competitiveness Report 2019". Laporan itu dirilis World Economic Forum (WEF) pada pekan ini.

"Perbaikan di Indonesia perlu diakselerasikan agar tidak disusul oleh Vietnam yang belakangan ini menunjukkan perbaikan pesat di berbagai bidang," tutur Faisal dalam blog pribadinya, dikutip Kamis (10/10).


Penurunan peringkat Indonesia disertai dengan penurunan skor yaitu dari 64,9 menjadi 64,6. Artinya, penurunan peringkat Indonesia bukan hanya karena negara-negara lain mengalami kenaikan skor melainkan juga karena skor daya saing Indonesia memburuk.

Di kelompok ASEAN-6, peringkat Indonesia memang masih lebih lebih baik dari Vietnam. Namun, peringkat daya saing Vietnam melonjak dari 77 menjadi 67. Perbaikan peringkat Vietnam juga disertai dengan peningkatan skor dari 58,1 menjadi 61,5.

Indeks daya saing global (GCI), sambung ia, merupakan indikator komposit dari 103 indikator yang dikelompokkan dalam 12 pilar. Skor terburuk Indonesia dialami oleh pilar ke-12 yaitu kemampuan inovasi (innovation capability) yang hanya 37,7 dari skor tertinggi 100.

Kemudian, terburuk kedua adalah pilar ke-3 yaitu adopsi informatika, komputer dan teknologi (ICT adoption), lalu pilar ke-8 pasar tenaga kerja (labor market), pilar pertama institusi (institutions), dan pilar ke-7 pasar produk (product market).

Khusus pada pilar pertama, indikator transparansi Indonesia memperoleh nilai sangat rendah, cuma 38.

Sementara, pilar dengan skor tertinggi adalah pilar ke-4 stabilitas makroekonomi (macroeconomic stability).

"Sayangnya skor yang sangat tinggi yaitu 90 untuk stabilitas makroekonomi -yang merupakan prasyarat penting pertumbuhan ekonomi berkelanjutan- belum dapat dijadikan modal untuk mengerek daya saing, sehingga di ASEAN-6 Indonesia hanya unggul di atas Vietnam dan Filipina," terangnya.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro mengakui penurunan peringkat daya saing Indonesia disebabkan oleh regulasi dan birokrasi pemerintah yang terlalu rumit. Hal itu mengurangi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.

"Ditambah saingan kita juga semakin agresif menawarkan kemudahan," katanya.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)