Hal itu terungkap dari laporan World Economic Forum (WEF) yang bertajuk The Global Competitiveness (GCI) Report 2019. Mengutip laporan WEF, disebutkan bahwa kinerja Indonesia pada dasarnya tak banyak berubah lantaran penurunan skor GCI kecil, yaitu 0,3.
WEF menyebut kekuatan utama Indonesia adalah ukuran pasarnya (peringkat 7 dengan skor 82,4) dan stabilitas makroekonomi (peringkat 54 dengan skor 90).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada ruang yang cukup untuk perbaikan bagi Indonesia kepada batas tertinggi penilaian, antara 30 dan 40 poin," tulis WEF.
Singapura mengantongi skor sebesar 84,8 naik 1,3. Sedangkan AS, mendapatkan skor 83,7 turun 2. Singapura menempati urutan pertama dalam hal infrastruktur, kesehatan, pasar tenaga kerja, dan pengembangan sistem keuangan.
"Ke depan, untuk menjadi pusat inovasi global, Singapura perlu mempromosikan kewirausahaan dan lebih meningkatkan basis keterampilannya," imbuh WEF.
Di Asia Tenggara, Indonesia menduduki ranking keempat. Selain Singapura, Indonesia kalah dari Malaysia yang bertengger di posisi 27 dengan skor 74,6. Peringkat Malaysia turun 2 dari sebelumnya 25. Indonesia juga kalah dari Thailand yang menempati posisi ke 40 dengan skor 68,1. Peringkat Negeri Gajah Putih itu juga turun 2 level dari 38.
Indonesia berhasil lebih unggul dari Filipina di posisi 64 dengan skor 61,9. Posisi Filipina turun 8 peringkat dari sebelumnya 56. Indonesia juga dinyatakan lebih berdaya saing dari Vietnam di posisi 67 dengan skor 61,5. Namun, Vietnam berhasil menaikkan posisinya sebanyak 10 peringkat dari sebelumnya 77.
WEF mencatat 10 negara dalam jajaran peringkat paling atas meliputi, Singapura, AS, Hong Kong, Belanda, Switzerland, Jepang, Jerman, Swedia, Inggris, dan Denmark. 10 peringkat paling atas didominasi oleh negara-negara di Eropa.
Turun Peringkat karena Regulasi Rumit
Menanggapi turunnya peringkat daya saing Indonesia, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro mengakui hal tersebut disebabkan regulasi dan birokrasi pemerintah yang terlalu rumit. Kondisi itu, membuat Indonesia belum terlalu ramah investasi.
Ia mengatakan kondisi tersebut mengurangi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
"Ditambah saingan kita juga semakin agresif menawarkan kemudahan," katanya.
[Gambas:Video CNN] (ulf/lav)