Peringkat Daya Saing Turun, Menko Darmin Akui RI Kalah Cepat

CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 13:24 WIB
Peringkat Daya Saing Turun, Menko Darmin Akui RI Kalah Cepat Darmin menilai penurunan peringkat daya saing Indonesia akibat perbaikan yang kalah cepat dari negara lain. (CNN Indonesia/Daniela Dinda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui penurunan peringkat daya saing terjadi karena Indonesia kalah cepat dengan negara lain dalam hal perbaikan level kompetitif. 

Sebelumnya, peringkat daya saing Indonesia merosot 5 peringkat dari 45 menjadi 50 dalam laporan "The Global Competitiveness Report 2019". Laporan itu dirilis World Economic Forum (WEF) pada pekan ini.

Namun, hal ini tak serta merta menunjukkan pemerintah Indonesia tidak melakukan apapun. Pasalnya, skor daya saing Indonesia hanya turun 0,3 persen menjadi 64,6, meski secara peringkat turun hingga lima posisi. Posisi Indonesia sebelumnya, kini ditempati Bahrain.


"Sebetulnya, penyebabnya pasti karena orang lain perbaikannya lebih cepat. Tetapi kami sendiri memang sedang menyiapkan juga perubahan yang cukup besar-besaran," ucap Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (10/10).

Ia mengatakan upaya untuk memperbaiki daya saing Indonesia sudah dilakukan melalui reformasi kebijakan secara struktural. Misalnya, mempercepat perizinan investasi melalui sistem perizinan yang terintegrasi dalam jaringan (Online Single Submission/OSS).

Kemudian, perbaikan juga dilakukan melalui berbagai penyederhanaan izin, syarat, prosedur, hingga penghapusan kriteria khusus ketika dunia usaha ingin melakukan kegiatan investasi dan perdagangan. Bahkan, saat ini pemerintah tengah menyiapkan penyatuan undang-undang alias omnibus law untuk kian meningkatkan percepatan perizinan.

"Itu nanti akan diresmikan dan diumumkan pada awal pemerintahan baru Pak Jokowi, sekarang kami tuntaskan dulu, mudah-mudahan beberapa hari ini tuntas," ungkapnya.

Di sisi lain, ketika Indonesia tengah berbenah, negara-negara lain justru mampu melaju lebih cepat dalam mengerek tingkat daya saingnya. Singapura misalnya.

Negara tetangga paling dekat dan satu kawasan di Asia Tenggara itu bahkan bisa mengungguli Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya berada di posisi puncak. Sementara AS harus puas berada di peringkat kedua atau satu tingkat dari Hong Kong di posisi ketiga.

"Sebenarnya Singapura menyontek dari AS dan Eropa. Malaysia juga, bukan 'nyontek' lah dia, tapi meniru dia sempurnakan," katanya.

Sebagai informasi, posisi 10 besar ditempati oleh Singapura, AS, Hong Kong, Belanda, Swiss, Jepang, Jerman, Swedia, Inggris, dan Denmark. Sementara Malaysia berada di peringkat ke-27, China ke-28, Filipina ke-64, Vietnam ke-67, dan India ke-68.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)