EDUKASI KEUANGAN

Cermat Berinvestasi di Masa Resesi

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 12/10/2019 09:37 WIB
Cermat Berinvestasi di Masa Resesi Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekhawatiran akan munculnya resesi ekonomi tengah menjadi topik perbincangan di masyarakat. Isu resesi mengemuka karena ekonomi beberapa negara melamban.

China misalnya, hanya tumbuh di kisaran 6,4 persen pada periode Oktober-Desember 2018 ke Januari-Maret 2019 dan kembali menurun ke 6,2 persen pada April-Juni 2019.

Penurunan sama juga dialami Indonesia. Pada Oktober-Desember 2018, ekonomi Tanah Air hanya 5,18 persen.


Pertumbuhan kembali turun pada kuartal I 2019 menjadi 5,07 persen. Ketika ekonomi melamban, penghasilan dan daya beli masyarakat akan menurun karena kegiatan industri menjadi loyo.

Ketika kondisi tersebut berlanjut, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK)  meningkat. Kalau benar terjadi, kemiskinan juga bisa meningkat.

Dalam kondisi seperti itu, Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan masyarakat harus pandai mencari sumber penghasilan tambahan. Salah satunya dengan berinvestasi.

Adakah investasi yang menguntungkan saat resesi?

Andi mengatakan ada. Ketika resesi datang, maka instrumen investasi yang paling pantas dipilih untuk 'menggandakan' uang adalah instrumen yang tidak mudah terpengaruh sentimen perlambatan ekonomi, seperti emas dan reksa dana non saham.

Reksa dana yang ideal dipilih, yaitu reksa dana pendapatan tetap, uang, dan campuran.

"Hasil investasinya bisa berkisar 10 persen sampai 30 persen, tergantung produknya," ungkap Andi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/10).

Instrumen investasi lain yang tepat dipilih adalah surat utang negara (obligasi). Andi mengatakan instrumen ini sebenarnya akan terpengaruh.

Karena ketika resesi terjadi para petinggi bank sentral di dunia akan melakukan penyesuaian tingkat bunga acuan. Penyesuaian tersebut, akan membuat tingkat imbal hasil (yield) obligasi menurun.

Misalnya, ketika BI menurunkan bunga acuannya dari kisaran 6 persen ke 5,25 persen, maka imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga turun dari kisaran 8,25 persen ke 7,5 persen.

"Bagi beberapa orang, angka tersebut kurang menarik karena semakin dekat dengan asumsi inflasi pemerintah sebesar 3,5 persen. Tapi, instrumen ini termasuk menguntungkan, pasti, dan aman," katanya.

Apalagi saat ini pemerintah menyediakan surat utang ritel yang bisa dibeli mulai dari nominal Rp1 juta per investor. Untuk itu, katanya, tak ada salahnya bila instrumen investasi ini coba dimiliki.

Instrumen lain yang serupa tingkat keamanannya, namun sedikit lebih rendah imbal hasilnya dari surat utang adalah deposito bank. Deposito bank serupa dengan tabungan di bank.

[Gambas:Video CNN]
Namun, dananya tidak bisa diambil sesuka hati alias harus 'diendapkan' di bank dalam kurun waktu tertentu. Bila ingin mencoba, calon investor bisa mengkombinasikan investasi emas, reksa dana, dan surat utang pemerintah di saat bersamaan.

"Tidak ada salahnya bila dana didiversifikasi dengan masuk ke deposito, surat utang, reksa dana, dan lainnya. Bila sudah terlatih mentalnya, baru masuk ke produk yang lebih tinggi risikonya," jelasnya.

Instrumen lain yang juga bisa dijadikan alat mencari keuntungan saat resesi adalah properti. Hanya saja, Andi mengatakan instrumen ini kurang 'cair'.

Dengan sifat tersebut, ketika kita membutuhkan uang tunai, instrumen tersebut sulit diuangkan.

"Ini biasanya pas untuk segmentasi menengah bawah. Tapi instrumen ini relatif tidak terganggu dengan resesi," terangnya.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad menambahkan instrumen investasi  tak tepat dimiliki ketika resesi adalah saham. Instrumen ini sangat mudah digoyang perlambatan ekonomi dan resesi.

"Tapi saham bisa bagus ketika dibeli saat harga turun, meski hanya berlaku yang fundamentalnya bagus. Instrumen ini juga hanya cocok untuk mereka yang agresif dan terbiasa investasi saham," tuturnya.

Nah, kira-kira instrumen investasi mana yang cocok dan berani Anda ambil? (agt)