Pudarnya Optimisme Kesepakatan Dagang Tekan Harga Minyak

CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 08:27 WIB
Pudarnya Optimisme Kesepakatan Dagang Tekan Harga Minyak Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia anjlok 2 persen pada perdagangan Senin (14/10). Sebab, investor melihat permintaan minyak mentah global berada di bawah tekanan menyusul pudarnya optimisme tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Mengutip Antara, Selasa (15/11), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,11 atau 2,03 persen menjadi US$53,59 per barel dan Brent turun US$1,16 atau 1,92 persen ke level US$59,35 per barel.

Tekanan terhadap minyak global disebabkan oleh perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang juga belum usai. Kesepakatan yang baru-baru ini dilakukan oleh kedua negara itu dinilai belum bisa memberikan kepastian kepada pasar


Selain itu, harga minyak juga tertekan karena pergerakannya berbanding terbalik dengan dolar AS yang sedang menguat. Pergerakan mata uang AS juga dipengaruhi oleh perang dagang yang belum menemukan titik temu.

"Harga minyak sedang dalam proses melepaskan sebagian besar keuntungan kuat perdagangan akhir pekan karena bertentangan dari AS dan China mengenai kemajuan perdagangan," papar Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates, dikutip Selasa (15/10).

Diketahui, AS dan China melakukan kesepakatan terkait perdagangan pada akhir pekan kemarin. Hal itu membuat harga minyak berjangka Brent dan WTI naik lebih dari 3 persen.

Namun, optimisme kesepakatan perang dagang memudar pekan ini. Pasalnya, China membutuhkan diskusi lebih lanjut dengan pihak AS.

Sebelumnya, harga minyak pada Jumat (11/10) sempat naik cukup tinggi. Harga minyak WTI menguat US$1,15 atau 0,2 persen menjadi US$54,7 per barel dan Brent naik US$1,41 atau 2,4 persen ke level US$60,51 per barel.

Kenaikan dipicu oleh ledakan kapal tanker milik Iran di lepas pantai Jeddah, Arab Saudi. Investor khawatir ledakan kapal Iran yang terjadi pada akhir pekan kemarin akan mengganggu produksi minyak mentah di wilayah tersebut.
(aud/sfr)