Neraca Perdagangan RI Defisit US$160 Juta per September 2019

CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 11:52 WIB
Neraca Perdagangan RI Defisit US$160 Juta per September 2019 Ilustrasi peti kemas. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$160 juta pada September 2019. Posisi ini berbanding terbalik dari kondisi Agustus 2019 yang surplus US$80 juta.

Jika diakumulasi, defisit neraca perdagangan Januari-September 2019 mencapai US$1,95 miliar. Realisasi defisit ini lebih rendah ketimbang periode Januari-September 2019 yang masih mencapai US$3,78 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$14,1 miliar, sementara impor mencapai US$14,26 miliar. Kinerja ekspor turun persen dari bulan sebelumnya, sedangkan impor melorot lebih dalam 8,53 persen dari Agustus 2019.


Khusus ekspor, nilai ekspor minyak dan gas (migas) sebesar turun 5,17 persen menjadi US$830 juta. Sementara ekspor non migas US$13,27 miliar atau turun 1,03 persen.

"Penurunan ekspor ini terkadi karena penurunan ekspor migas dan non migas. Ekspor minyak mentah turun 33 persen," ungkap Suhariyanto, Selasa (15/10).

Sementara untuk ekspor industri pengolahan turun 3,51 persen menjadi US$10,85 miliar, sedangkan ekspor pertambangan lainnya naik 13,03 persen menjadi US$2,06 miliar.

Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-September 2019 tercatat sebesar US$124,17 miliar. Angkanya menurun dari posisi Januari-September 2018 sebesar US$134,96 miliar.

Dari sisi impor, khusus untuk migas senilai US$1,59 miliar atau turun dari bulan sebelumnya US$1,63 miliar. Sementara, impor non migas sebesar US$12,67 miliar atau naik 1,02 persen dari US$12,54 miliar.

Lebih rinci, kenaikan impor nonmigas terjadi pada barang konsumsi mencapai 3,13 persen menjadi US$1,41 miliar, barang baku/penolong melorot 0,7 persen menjadi US$10,26 miliar, dan barang modal naik 4,8 persen menjadi US$2,59 miliar.

"Penurunan migas turun karena impor minyak mentah turun 20,95 persen," jelasnya.

Berdasarkan negara asal impor, peningkatan impor terjadi dari Oman US$32,3 juta, Argentina US$32 juta, dan Belanda US$30,1 juta. Kendati begitu, ada penurunan impor ke China US$358,7 juta, Italia US$156,5 juta, dan Jerman US$116,5 juta.

Secara kumulatif, kinerja impor Januari-September 2019 sebesar US$126,12 miliar. Realisasi itu turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$138,78 miliar. (aud/lav)