"Pemerintah telah mengeluarkan super deduction tax yang dapat dimanfaatkan industri yang berinisiatif untuk meningkatkan kapabilitasnya," ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Harjanto seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa (15/11).
Peningkatan daya saing penting mengingat industri elektronika merupakan salah satu sektor pionir dalam implementasi industri 4.0.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, produsen mesin cuci tengah menjajaki untuk menembus pasar Nigeria.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-Agustus 2019, nilai ekspor mesin/peralatan listrik mencapai US$5,55 miliar. Sedangkan, nilai impor mesin/peralatan listrik mencapai USD12,60 miliar atau merosot 10,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Peluangnya masih terbuka karena berkurangnya pasokan produk elektronika dari China ke Amerika Serikat. Selain itu, PT Panasonic Manufacturing Indonesia baru-baru ini memperluas basis ekspornya ke Taiwan. Bahkan, LG Electronics Indonesia, juga berencana untuk memasok AC portable ke Amerika Serikat dalam jumlah yang besar," paparnya.
Lebih lanjut, Janu menegaskan, pemerintah juga fokus mendorong industri elektronik di dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam lingkaran rantai pasok bernilai tambah tinggi. Langkah strategis ini diwujudkan antara lain melalui peningkatan investasi.
Sepanjang tahun lalu, nilai investasi industri elektronik menyentuh Rp12,86 triliun, menanjak 64,76 persen dari tahun sebelumnya Rp7,81 triliun.
[Gambas:Video CNN]
"Tahun ini, ditargetkan ada beberapa investasi baru yang akan masuk, yang secara total nilainya mencapai Rp1,3 triliun dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan sebanyak 248,5 ribu orang," ungkapnya.
Beberapa investor yang masuk di antaranya PT Sammyung Precision Batam, PT Simatelex Manufactory Batam, PT Pegatron Technology Indonesia, dan PT Siix Electronics Indonesia.