Realisasi KUR Agustus Rp102 Triliun, 72 Persen dari Target

CNN Indonesia | Rabu, 16/10/2019 16:02 WIB
Realisasi KUR Agustus Rp102 Triliun, 72 Persen dari Target Ilustrasi pengajuan kredit usaha rakyat. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) mengatakan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tercatat mencapai Rp102 triliun sepanjang Januari-Agustus 2019. Capaian itu setara 72,85 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp140 triliun.

Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan KUR itu diberikan kepada 3,6 juta debitur. Sejak program dicanangkan pada 2015, total pembiayaan telah mencapai Rp435,4 triliun kepada 17,5 juta debitur.

Dengan raihan itu, ia meyakini penyaluran KUR bisa mendekati target plafon yakni Rp140 triliun. Namun, ia memastikan penyaluran KUR tidak akan mencapai 100 persen atau melebihi plafon tersebut. Pasalnya, pemerintah hanya memberikan subsidi KUR sesuai dengan plafon yang telah ditetapkan.


"Karena kalau melampaui plafon dia (bank) tidak dibayar subsidinya (bunga). Jadi tidak mungkin 100 persen, mana mungkin dia kasih lebih, maka tidak pernah sejarahnya bisa 100 persen," katanya, Rabu (16/10).

Namun demikian, ia memastikan penyaluran KUR tahun ini bakal melebihi tahun lalu yang tercatat sebesar Rp120 triliun. Bahkan, lanjutnya, bank penyalur seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank negara Indonesia (Persero) Tbk justru mengajukan tambahan plafon masing-masing sebesar Rp2 triliun. Kondisi itu mencerminkan animo masyarakat kepada akses KUR.

Meski permintaan tambahan plafon dari bank pelat merah itu belum disetujui, ia bilang terdapat potensi pemberian tambahan plafon.

"Karena setelah kami hitung-hitung, plafonnya bisa sampai Rp141 triliun. Maka tadi bank yang minta sebagian ada yang bisa kami penuhi," katanya.

Tahun depan, pemerintah mengaku akan lebih agresif dalam menyalurkan KUR. Targetnya, pertumbuhan KUR harus di atas pertumbuhan kredit perbankan nasional. Sementara itu, plafon KUR tahun depan bakal diputuskan oleh Komite Pembiayaan pada November mendatang.

"Ke depan minimal tidak boleh di bawah pertumbuhan kredit nasional, mungkin di kisaran Rp150 triliun -Rp160 triliun untuk tahun depan," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]
Kredit Macet Di Bawah Industri

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan tingkat kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) KUR sangat rendah. Itu berarti, debitur yang merupakan pelaku UMKM mampu memenuhi kewajiban mereka tepat waktu.

Catatan pemerintah, dari total penyaluran KUR periode Agustus 2015-31 Agustus 2019 sebesar Rp435,4 triliun, tingkat NPL mencapai 1,3 persen. KUR itu disalurkan kepada 17,5 juta debitur.

"Hal yang menarik adalah kalau dari segi kredit ini NPL rendah sekali 1,3 persen," ujarnya.


Bahkan, sambung dia, jika perhitungan KUR mengeluarkan KUR untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI), maka tingkat kredit macet hanya 0,9 persen. Angka itu jauh lebih rendah ketimbang tingkat NPL industri perbankan sebesar 2,6 persen pada Agustus 2019. Ia menuturkan tingkat NPL paling tinggi berasal dari KUR TKI lantaran pemerintah kesulitan memantau kreditnya ketika mereka meninggalkan Indonesia.

"Ini pertama kali sejak kami salurkan kredit, memasuki tahun keempat kredit macet 0,9 persen. Itu lebih baik dari seluruh NPL nasional," katanya. (ulf/lav)