Menteri Baru Dilantik, Rupiah Kokoh di Rp14.032 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 16:39 WIB
Menteri Baru Dilantik, Rupiah Kokoh di Rp14.032 per Dolar AS Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah bertengger di level Rp14.032 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Rabu (23/10) sore. Posisi tersebut menguat 0,06 persen dibandingkan penutupan Selasa (23/10), Rp14.040 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.051 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin, Rp14.058 per dolar AS. Hari ini, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp14.016 - Rp14.060 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Lira Turki menguat 0,53 persen, peso Filipina 0,39 persen, yen Jepang 0,1 persen, yuan China 0,03 persen, rupee India 0,03 persen, dan ringgit Malaysia 0,02 persen.


Di sisi lain, dolar Singapura melemah 0,01 persen terhadap dolar AS. Kondisi serupa juga terjadi pada bath Thailand sebesar 0,03 persen, dolar Taiwan 0,08 persen, dan won Korea 0,21 persen.

Di negara maju, mayoritas nilai tukar keok terhadap dolar AS di antara dolar Australia sebesar 0,19 persen, poundsterling 0,09 persen, dan euro 0,04 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah disebabkan oleh sentimen positif dari pemilihan menteri Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin yang sesuai ekspektasi pasar.

"Seperti Menkeu jadi Sri Mulyani. BUMN jadi Erick Thohir, itu sebenarnya menjadi momok pembicaraan pasar terkait kabinet kemarin-kemarin," kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/10).

Selain itu, Ibrahim menilai pasar bereaksi positif akan terpilihnya menteri dalam negeri Tito Karnavian, serta Prabowo Subianto yang menjadi menteri pertahanan.

"Ekonomi akan membaik apabila keamanan juga bagus. Salah satunya adalah terpilihnya Tito dan Prabowo. Itu yang membuat pasar optimis," ungkapnya.

Sementara itu, dari segi eksternal, Ibrahim mengatakan pelambatan pertumbuhan ekonomi China, serta isu Brexit yang di luar dugaan dengan prediksi pasar atas potensi Boris Johnson untuk melakukan percepatan pemilu telah mempengaruhi penguatan terhadap dolar AS.

Kendati demikian, rupiah masih tetap menguat walaupun dolar AS semakin perkasa. Menurutnya, kejadian tersebut disebabkan karena data internal dari Indonesia dalam kondisi yang baik.

"Seiring menguatnya dolar, rupiah juga menguat. Mengapa begini? Artinya, berarti data internal cukup bagus mendukung mata uang rupiah," ungkapnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)