Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.148 per Dolar AS di Akhir Pekan

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 16:42 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.148 per Dolar AS di Akhir Pekan Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.148 per dolar AS pada akhir pekan ini. Posisi tersebut menguat 0,05 persen dibandingkan Kamis (17/10) yang di Rp14.155 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.140 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yang di Rp14.172 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Tercatat, lira Turki menguat 0,89 persen, won Korea 0,46 persen, dan rupee India 0,07 persen.


Selain itu, penguatan terhadap dolar AS juga dialami oleh baht Thailand sebesar 0,12 persen, peso Filipina 0,18 persen dan dolar Hong Kong 0,02 persen.

Sementara itu, beberapa mata uang di Asia yang melemah terhadap dolar AS adalah yen Jepang sebesar 0,02 persen, yuan China 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,13 persen dan dolar Singapura 0,07 persen. Di negara maju, pergerakan mata uang terpantau bervariasi terhadap dolar AS.

Poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, sementara dolar Australia menguat 0,19 persen, dan euro juga menguat 0,02 persen. Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah disebabkan oleh spekulasi pasar atas peluang penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) AS pada bulan Oktober.

"(Peluang) Itu sebagian disebabkan oleh komentar dari Presiden Fed Chicago Charles Evans yang berpendapat bahwa Fed cukup agresif untuk mendapatkan momentum ke dalam inflasi," kata Brahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/10).
[Gambas:Video CNN]Selain itu, ia juga mengatakan sentimen juga datang dari aksi tunggu pelaku pasar atas negosiasi Brexit antara Inggris dan Irlandia. Mereka berspekulasi atas laporan bahwa kesepakatan masih bisa diumumkan akhir minggu ini.

Dari sisi domestik, ia mengungkap sentimen positif rupiah datang dari optimistisme pemerintah atas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah meyakini ekonomi RI masih kuat tumbuh di atas level 5 persen pada 2019.

"Target tersebut akan tercapai jika Indonesia bisa menjaga konsumsi domestik yang tidak bergantung pada kondisi global," tuturnya.

(ara/agt)