REKOMENDASI SAHAM

Pelantikan Jokowi Beri Berkah ke Saham Sektor Konstruksi

ulf, CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 10:00 WIB
Pelantikan Jokowi Beri Berkah ke Saham Sektor Konstruksi Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin resmi menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024. Upacara pelantikan pasangan Jokowi-Ma'ruf pada Minggu (20/10) terpantau berjalan lancar.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai pelantikan Jokowi-Ma'ruf bisa menjadi katalis positif di pasar ekuitas. Pasalnya, pelantikan makin memberikan kepastian atas kondisi politik dan ekonomi Indonesia saat ini.

Ia memprediksi pasar cenderung bergerak lebih stabil usai pelantikan ini. Bahkan, sambung dia, sambutan positif pelaku pasar sudah tampak sejak sepekan sebelum pelantikan.


Kondisi ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat sebesar 1,41 persen dari level 6.105 menjadi 6.191.

"Artinya ini melihat mereka sudah mulai inisiatif lebih dulu dengan ekspektasi pelantikan akan jalan dengan baik," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Agak berbeda dengan Alfred, pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan sentimen global masih mendominasi pasar ekuitas. Meluasnya perang dagang akan menambah ketidakpastian di pasar setelah sebelumnya AS juga masih bersitegang dengan China.

Tak hanya itu, ia bilang penguatan dolar AS juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Sepanjang pekan lalu, rupiah melemah tipis sebesar 0,04 persen ke posisi Rp14.145 per dolar AS.

Ia meramalkan IHSG hanya mampu menguat terbatas di bawah tekanan sentimen global. "Jadi dua sentimen negatif dibandingkan satu sentimen positif yaitu pelantikan sendiri masih terbatas karena ada sentimen lain jadi indeks cenderung menguat terbatas," tuturnya.

Di tengah stabilitas pasar usai pelantikan, Alfred merekomendasikan untuk mengoleksi saham sektor infrastruktur dan konstruksi. Ini sejalan dengan salah satu strategi pembangunan Jokowi dalam lima tahun mendatang; mendorong kembali pembangunan infrastruktur.

Berbeda dengan periode pertama, kepala negara bilang pembangunan infrastruktur akan menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, mempermudah akses ke kawasan wisata, sehingga mampu mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.

"Kemungkinan sektor infrastruktur dan konstruksi relatif cukup bagus, melalui berlanjutnya program infrastruktur," tuturnya.

Dari sektor infrastruktur ia merekomendasikan saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Sedangkan, dari sektor konstruksi ia merekomendasikan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).

[Gambas:Video CNN]
Selain kelanjutan pembangunan infrastruktur, ia menuturkan saham Telkom mendapat sentimen positif dari peresmian proyek infrastruktur 'langit' yaitu Palapa Ring pada Senin (14/10). Dalam jangka panjang, Alfred meyakini Palapa Ring akan berdampak positif bagi kinerja perusahaan pelat merah itu.

Melalui Palapa Ring, Telkom bisa memperluas akses jaringannya. Menurut informasi dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI), Telkom tengah dalam proses uji coba Palapa Ring bersama PT. Primacom Interbuana.

Dari sisi kinerja saham, perusahaan dengan kode saham TLKM itu berhasil mengantongi kenaikan 0,48 persen dalam sepekan. Saham Telkom ditutup di posisi Rp4.190 naik 0,48 persen pada perdagangan Jumat (18/10). Sementara sejak awal tahun, sahamnya berhasil naik 11,73 persen. Hingga akhir tahun, Alfred memprediksi saham Telkom mampu mencapai posisi Rp4.580 per saham.

Tindak lanjut pembangunan infrastruktur, sambung dia, menjadi katalis positif bagi BUMN karya maupun anak usahanya yang notabene mendukung bisnis perusahaan. Dalam hal ini, Wijaya Karya dapat dipastikan kembali kecipratan proyek pembangunan infrastruktur jilid II.

Proyek baru Wijaya Karya berpotensi mengerek kinerja Wika Beton sebagai entitas anak yang memasok beton untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur. Dari sisi kinerja saham, Wijaya Karya tercatat naik signifikan pada perdagangan Jumat (18/10) sebesar 5,26 persen menjadi Rp2.000 per saham.

Dalam sepekan saham Wijaya Karya naik 7,24 persen serta sebesar 20,85 persen sejak awal tahun. Saham Wijaya Karya diramal akan menembus level Rp2.310 per saham. Sementara itu, saham Wika Beton naik 6,11 persen dalam sepekan dan sebesar 29,26 persen sejak awal tahun.

Pada perdagangan pekan lalu, saham Wijaya Karya Beton naik 3,4 persen menjadi Rp486 per saham. Alfred meyakini saham Wika Beton bisa menembus posisi Rp960 per saham.

Namun demikian, katanya, pelaku pasar perlu mencermati utang-utang BUMN khususnya BUMN karya. Pasalnya, total liabilitas BUMN karya terbilang naik lebih tinggi dibandingkan BUMN di sektor lainnya.

Tak heran, karena Jokowi memang menggenjot pembangunan infrastruktur salah satunya melalui peran BUMN. "Dari catatan saya utang BUMN karya rata-rata naik hampir lima kali lipat atau 47 persen per tahunnya dari periode 2014-2018," katanya.

Wijaya Karya sendiri tercatat memiliki total liabilitas sebesar Rp41,83 triliun pada semester I 2019. Jumlah kewajiban Wijaya Karya konsisten tumbuh tiap tahunnya.

Pada 2015, liabilitas Wijaya Karya tercatat sebesar Rp14,16 triliun, lalu naik tipis menjadi Rp14,6 triliun di tahun 2016.  Utang Wijaya Karya makin meroket hingga Rp31,05 triliun di 2017 dan Rp42,01 triliun tahun lalu.

Meskipun utang naik, Alfred bilang pasar tak perlu khawatir. Pasalnya, kenaikan utang itu disertai dengan kenaikan profitabilitas. Dibandingkan dengan BUMN karya lain, kinerja Wijaya Karya terpantau paling moncer.

Kontraktor proyek Tol Balikpapan-Samarinda ini mengantongi kenaikan laba bersih 72,23 persen secara tahunan dari Rp517,25 miliar menjadi Rp890,88 miliar. Akan tetapi, sambung dia, jika BUMN karya kembali menjalankan tanggung jawab pembangunan infrastruktur, ia menyarankan untuk mengurangi penggunaan liabilitas.

Pasalnya, dalam satu hingga dua tahun kemungkinan akan ada tekanan perlambatan ekonomi, sehingga meningkatkan risiko utang.

"Sekarang posisinya belum ada masalah karena utang diikuti kemampuan menghasilkan laba. Hanya saja ke depan kalau tetap ingin ekspansi lebih baik kurangi porsi penggunaan utang dan perbesar porsi ekuitas seperti Penanaman Modal Negara (PMN)," katanya.

Sementara itu, Lucky merekomendasikan saham-saham sektor tambang di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada Jumat (18/10), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) terpantau naik US$0,57 menjadi US$53,93 per barel dan Brent menguat US$0,49 ke level US$59,91 per barel.

"Penguatan harga minyak akan mendorong harga komoditas lainnya seperti nike, batu bara, baja, dan timah," katanya.

Atas pertimbangan itu, ia merekomendasikan beli untuk saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Menariknya, Alfred mengatakan pelaku pasar bisa mencermati saham-saham emiten yang memiliki afiliasi dengan nama-nama yang santer disebutkan sebagai calon menteri Jokowi-Ma'ruf. Ia menyarankan pelaku pasar menanti pengumuman resmi susunan kabinet yang rencana akan disampaikan Jokowi pada Senin (21/10) pagi.

"Dengan posisi menteri, akan ada nilai tambah yang lebih bagus pada perusahaan walaupun ini masih sebatas ekspektasi dan persepsi," tuturnya.


Namun demikian, sentimen positif itu hanya bersifat jangka pendek. Artinya, jika afiliasi dengan menteri nantinya tak terimplementasi pada kinerja keuangan emiten, maka sentimen tersebut hanya sebatas euforia. Pelaku pasar, kata dia, diminta untuk mempertimbangkan kepemilikan sahamnya pada emiten tersebut. Sebaliknya, jika pengaruh afiliasi emiten dengan menteri cukup kuat hingga mendongkrak kinerja, maka pelaku pasar bisa berinvestasi lebih lama.

"Jadi harus menunggu kabinet, tapi ada potensi positif menteri yang memiliki afiliasi dengan emiten," katanya. (agt)