"Saat ini Indonesia alami CAD, defisit neraca perdagangan yang harus dibenahi. Ini harus ada kerja sama ke depannya," ucap Arifin, Rabu (23/10).
Hal ini diungkapkan Arifin setelah melakukan serah terima jabatan (sertijab) di Kementerian ESDM hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di ESDM tantangan banyak. Banyak keputusan karena harga gas harus menteri yang putuskan. Harga listrik, B30, IPP. Itu harus jadi atensi sendiri biar tidak banyak masalah," ujar Jonan.
Menurutnya, Arifin bukanlah sosok baru di sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas). Namun, sektor mineral dan batu bara (minerba) kemungkinan adala hal baru bagi Arifin.
Diketahui, Arifin merupakan seorang profesional. Pada 1995 - 2001, ia menduduki posisi sebagai direktur bisnis PT Rekayasa Industri. Setelah itu, ia menjabat sebagai direktur Utama PT Petrokimia Gresik pada 2001-2010.
Karir Arifin terus menanjak hingga menduduki posisi direktur utama PT Pupuk Sriwijaya (Persero) atau Pusri selama periode 2010-2015.
Kemudian, Arifin mengemban amanat dari Jokowi untuk menduduki posisi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jepang setelah diangkat pada 13 Maret 2017 lalu.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)