Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Luky Alfirman mengatakan pelebaran defisit ini merupakan konsekuensi dari kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah di tengah perlambatan ekonomi global saat ini. Kementerian Keuangan memutuskan untuk lebih banyak menggelontorkan belanja demi menjaga ekonomi domestik.
"Potensi defisit APBN 2019 diperkirakan 2 persen-2,2 persen karena pemerintah mengimplementasikan kebijakan counter cyclical (penyangga ekonomi) untuk merespons kondisi ekonomi domestik dan global," ucap Luky, Jumat (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tetap berusaha untuk tetap prudent. Ini kan ada batasannya. Pemerintah konsisten menjaga sesuai dengan aturan tidak boleh lebih dari 3 persen," tegas Luky.
[Gambas:Video CNN]
Di tengah potensi peningkatan defisit ini, pemerintah pun merilis surat utang negara (SUN) dalam dua valuta asing (dual currency), yakni dolar Amerika Serikat (AS) dan euro masing-masing sebesar US$1 miliar dan EUR1 miliar.
"Penerbitan ini ditujukan untuk mengantisipasi adanya potensi pelebaran defisit APBN," kata Luky.
SUN ini mendapatkan peringkat Baa2 dari Moodys, BBB dari Standard & Poor's, dan BBB dari Fitch. Sementara, kedua SUN ini dicatatkan di Singapore Stock Exchange dan Frankfurt Stock Exchange. (aud/lav)