EDUKASI KEUANGAN

Siasati Kantong Bolong Saat Liburan

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Sabtu, 26/10/2019 10:42 WIB
Siasati Kantong Bolong Saat Liburan Ilustrasi liburan. (kpgolfpro/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang akhir tahun, pergi berlibur menjadi kegiatan yang paling dinanti oleh seluruh lapisan masyarakat. Berlibur menjadi obat mujarab pelepas penat setelah satu tahun penuh berkutat dengan pekerjaan.

Jauh-jauh hari, masyarakat mulai pilih-pilih destinasi wisata yang bakal dikunjungi. Tak lupa, baju hingga pernak pernik liburan dipersiapkan agar tampak menarik saat didokumentasikan nanti. Maklum, kehadiran media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook, hingga Twitter meningkatkan ruang eksistensi masyarakat.

Saking asyiknya memilih destinasi dan pernak-pernik liburan, masyarakat kadang-kadang lupa elemen penting dari persiapan liburan, yaitu sisi pendanaan.


Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan anggaran liburan sebaiknya dipersiapkan sebelum menentukan destinasi. Itu berarti, destinasi menyesuaikan dengan kemampuan finansial, bukan sebaliknya. Ia menyarankan, anggaran liburan ini dipisahkan dengan uang tabungan untuk keperluan lainnya.


"Jadi, ada budget yang memang diperuntukkan untuk tabungan dan jalan-jalan. Jadi persiapannya jauh-jauh hari," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Ia tidak menyarankan liburan tanpa persiapan finansial matang. Alih-alih mendapatkan pikiran dan semangat baru usai berlibur, masyarakat justru harus menanggung beban pengeluaran berlebih saat berlibur.

Ia menganjurkan masyarakat untuk menghindari penggunaan fasilitas pembayaran di akhir atau yang terkenal dengan istilah pay later. Sebagaimana diketahui, beberapa jasa pemesanan tiket dan hotel telah menyediakan layanan tersebut.

Andi khawatir penggunaan pay later membuat masyarakat tidak mempersiapkan anggaran berlibur dengan baik.

"Pay later boleh saja, tetapi itu mendorong masyarakat lebih konsumtif dan tidak memiliki perhitungan karena merasa yang penting bisa jalan dicicil belakangan," katanya.

Ketimbang memanfaatkan pay later, ia menganjurkan masyarakat untuk menggunakan bonus akhir tahun. Dengan catatan, bonus tersebut dapat digunakan untuk berlibur setelah masyarakat membayar kewajiban maupun cicilan jatuh tempo.

"Misalnya ada cicilan dan utang yang harus dibayar, coba dipertimbangkan lagi. Apakah berlibur lebih penting dibandingkan kita harus membayarnya," katanya.

Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menambahkan anggaran liburan sebaiknya disiapkan sejak awal tahun dengan memperhitungkan bonus tahunan yang bisa digunakan untuk berlibur. Jika setelah dihitung, uang bonus tidak mencukupi, maka masyarakat mulai bisa memperkirakan dana yang bisa dialokasikan tiap bulannya untuk berlibur.

"Kalau direncanakan sejak awal tahun kekurangannya sudah ketahuan. Tetapi, sebaiknya tiap bulan disisihkan untuk kewajiban dulu," ujarnya.

Sementara itu, bagi masyarakat yang tidak menerima bonus akhir tahun bukan berarti harus berkecil hati. Mereka masih bisa saja menikmati liburan akhir tahun dengan cara mencari sumber pendapatan sampingan. Misalnya, memanfaatkan platform penjualan online maupun berjualan di kegiatan yang banyak dikunjungi masyarakat, seperti Car Free Day (CFD).

"Yang penting tidak mengganggu pekerjaan utama," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Alternatif Liburan Murah

Terlepas dari aspek pendanaan, destinasi dan pernak-pernik liburan lainnya, Andy mengingatkan esensi dari berlibur sendiri adalah melepas penat. Jadi, lanjutnya, liburan tak harus mahal ke luar pulau maupun luar negeri.

"Kalau tetap ingin jalan-jalan silahkan, tapi harus sesuai dengan budget, tujuan berlibur adalah untuk melepas penat dan keluar dari rutinitas. Bukan hanya soal eksistensi di media sosial," tuturnya.

Masyarakat bisa memanfaatkan liburan murah pada destinasi wisata yang tersedia di kotanya. Misalnya, Monas, Ancol, dan Kota Tua di Jakarta. Lalu, Gedung Sate dan Jalan Braga di Bandung, dan sebagainya.

Andi melanjutkan masyarakat juga bisa memilih liburan dengan anggaran minimalis, atau yang biasa dikenal dengan istilah backpacker. Perjalanan backpacker dapat diartikan sebagai perjalanan mandiri. Tidak ada bantuan dari agen perjalanan.
Tantangannya adalah, masyarakat harus jeli memilih transportasi, penginapan, hingga makanan yang harganya paling terjangkau. Seluruh kegiatan dalam perjalanan diatur oleh dirinya sendiri.

"Tetapi backpacker tidak disarankan untuk liburan bersama keluarga," tuturnya.

Tejasari menambahkan agar berlibur lebih murah masyarakat bisa memanfaatkan layanan open trip. Ini merupakan paket wisata yang memungkinkan masyarakat bergabung dengan pelancong lainnya. Open trip diatur oleh sebuah agen perjalanan dengan kuota tertentu.

Karena beramai-ramai, maka harganya pun lebih miring. Agen perjalanan juga menentukan itinerary liburan seperti waktu keberangkatan dan kepulangan, destinasi wisata, titik kumpul, hingga makanan.

"Kalau open trip anggaran lebih jelas, karena sudah ditentukan di awal. Sedangkan kalau backpacker kadang-kadang muncul biaya tambahan," ucapnya. (lav)