Laporan GEM menunjukkan pembangunan PLTU batu bara di Asean menurun tajam sejak 2017 lalu. Padahal sebelumnya, ASEAN digembar-gemborkan sebgai kawasan pertumbuhan industri PLTU.
Direktur Eksekutif GEM Ted Nace mengatakan turunnya minat membangun PLTU terkait dengan pembiayaan yang cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dibeberkan, tampak penyusutan memang terjadi penurunan dari tahun ke tahun. Pada pertengahan 2016 sebesar 107.644 MW. Pada 2017, jumlah kapasitasnya kembali menyusut menjadi 88.147 MW.
Nace menuturkan angka-angka tersebut memberi sinyal surutnya pamor PLTU baru bara, terutama bagi negara eksportir utama baru bara seperti Indonesia dan Australia.
Direktur Program Batubara GEM Christine Shearer menuturkan tren menurunnya pembangunan terkait penolakan masyarakat dengan kehadiran PLTU batu bara karena tingginya dampak polusi. Kedua, teknologi energi baru terbarukan semakin murah dan berkualitas. Ketiga, banyak lembaga keuangan yang mundur dari pembiayaan terkait.
"Sehingga membuat pendanaan menjadi tantangan yang semakin meningkat untuk PLTU batu bara," tuturnya.
Tak hanya itu, beberapa negara juga mulai mengambil langkah terkait energi terbarukan. Pada Januari 2019, Thailand menghapus dua PLTU batu bara utama yaitu PLTU Krabi 800 MW dan PLTU Thepa 2.200 MW dari rencana pengembangan pembangkit. Negeri Gajah Putih itu juga menunda kelanjutan pembangkit Thap Sakae 3.200 MW lantaran penolakan dari masyarakat.
Serupa, Vietnam mencapai target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 6 tahun lebih awal. Sementara itu, Presiden Filipina Duterte dalam pidato State of the Nation Address September, secara mengejutkan menyatakan akan mempercepat energi terbarukan dan mengurangi penggunaan batu bara.
[Gambas:Video CNN] (ulf/eks)