Rosmiyati Dewi Kandi
Rosmiyati Dewi Kandi menjadi jurnalis pada 2007-2017, saat ini beraktivitas di Yayasan Indonesia CERAH sebagai Senior Associate untuk Bidang Energi Terbarukan. Dengan senang hati meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang jurnalisme dan media serta menonton pertandingan bulutangkis.

Mendesak Senjakala Batu Bara di Era Jokowi Jilid Dua

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Minggu, 27/10/2019 17:34 WIB
Mendesak Senjakala Batu Bara di Era Jokowi Jilid Dua Kapal tongkang batu bara. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Liputan saya ke Kalimantan Timur pada Agustus 2016 menyisakan satu isu yang belum sempat digali lebih dalam untuk diusulkan sebagai topik baru ke redaksi CNNIndonesia.com.

Ketika itu, fokus laporan adalah tentang lubang-lubang bekas tambang batu bara yang mengelilingi kawasan, menyebabkan kematian belasan anak, dan gambaran betapa karut marutnya tata kelola pertambangan batu bara.

Isu yang saya maksud adalah dampak kesehatan bagi warga sekitar pertambangan batu bara, yang belakangan saya tahu pembakaran batubara untuk pembangkit juga berakibat buruk.


Seri laporan jurnalistik tentang lubang tambang tersebut hanya memuat satu artikel yang sebatas di permukaan soal isu kesehatan, yakni berdasarkan hasil wawancara guru, orang tua murid, dan siswa di SD Negeri 009, Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Mereka bertutur soal debu batu bara yang memenuhi ruang kelas, memaksa siswa tak menempati gedung sekolah yang baru dibangun. Debu diduga mengganggu pernapasan, sakit kepala tak tertahankan, memicu batuk, hingga dahak berwarna hitam.

Komite Sekolah lantas menggelar pertemuan yang dihadiri 175 orang tua dari total 200 siswa, 21 Oktober 2013. Rapat memutuskan: gedung sekolah baru tidak akan lagi ditempati demi alasan kesehatan.

Penelitian-penelitian lain yang saya baca kemudian memperkuat penuturan itu. Laporan Global Subsidies Initiative (GSI) yang diterbitkan the International Institute for Sustainable Development (IISD) pada Mei 2018 menyebutkan, "pembakaran batu bara berkontribusi pada polusi udara, bersama-sama dengan pembakaran bahan bakar untuk transportasi (diesel dan bensin), pembakaran hutan musiman, dan sebagainya.

Laporan bertajuk Biaya Kesehatan dari Batubara di Indonesia tersebut menuliskan, pembakaran itu melepaskan gas dan partikel kecil yang dapat dihirup manusia, yang sejumlah komponennya beracun.

Polusi udara merupakan penyebab utama penyakit tidak menular (PTM) yang menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebabkan 62 ribu kematian di Indonesia pada 2012.

Dari sisi ekonomi, sebuah penelitian dari Harvard T. Chan School of Public Health dan the World Economic Forum (WEF) memperkirakan, penyakit pernapasan di Indonesia dapat membebani hingga US$805 miliar (Rp11.250 triliun) antara 2012 hingga 2030.

Energi Matahari untuk Negeri

Dengan fakta itu jelas bahwa transisi penggunaan energi fosil ke energi bersih dan terbarukan menjadi kebutuhan mendesak.
Mendesak Senjakala Batubara di Era Jokowi Jilid DuaIlustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sayangnya, masalah itu tidak masuk dalam kebijakan strategis pemerintahan Jokowi saat ini. Dari target bauran energi terbarukan 23 persen pada 2025, realisasinya per kuartal I tahun 2019 baru sekitar 13 persen. Berkaca pada kondisi saat ini, bukan hanya tren peningkatan baurannya saja yang dikhawatirkan tidak mencapai target, tetapi juga soal dominasi penggunaan energi fosil yang masih tinggi.

Dari data yang diolah Auriga Nusantara, bauran pada program 35 ribu megawatt terdiri dari 56 persen PLTU, 38 persen minyak dan gas, dan hanya 7 persen energi terbarukan. Padahal, potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar.

Merujuk pada Laporan Status Energi Bersih Indonesia tahun 2018 yang dirilis Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi energi terbarukan untuk dikonversi menjadi listrik mencapai 422-500 GW. Potensi energi matahari berkisar di angka 200-280 GW, namun pemanfaatannya masih kurang dari 100 MW.

Tak perlu saya jelaskan bahwa Indonesia jauh tertinggal dari negara tetangga atau Eropa, seperti Jerman yang pada 2016 mencanangkan larangan memakai fosil mulai tahun 2030.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Berperan aktif meningkatkan pemahaman publik agar isu energi (bersih dan terbarukan) bisa menjadi topik percakapan semua kalangan. Hal ini menjadi agenda krusial karena beberapa alasan. 


Pertama, pemahaman dan kesadaran publik atas pentingnya transisi energi dari fosil ke energi bersih dan terbarukan diharapkan dapat diakumulasi menjadi tekanan kepada pemerintah untuk mengubah kebijakan. Isu energi saat ini hanya menjadi topik bahasan di kelompok dan ruang yang terbatas.

Tanpa bermaksud pesimistis, tapi pernyataan Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Ida Nuryatin Finahari dalam diskusi "Masa Depan Kebijakan Energi Terbarukan" pada akhir September lalu memang cukup meresahkan.

Saya mendengar dan mencatat pernyataannya, "No coal enggak mungkin karena sampai 2050 kita masih bergantung pada fossil fuel."

Sumber energi terbanyak kita cuma batubara. Jadi bagaimana kita tetap menggunakan batubara tapi dengan 'clean technology.'

Menggarisbawahi pernyataan bahwa "sumber energi terbanyak cuma batu bara" yang diucapkan salah seorang direktur energi terbarukan di pemerintahan, menunjukkan bahwa energi bersih memang belum menjadi prioritas. Kebijakan dan regulasi yang dibuat tidak memfasilitasi berkembangnya investasi dan pembangunan infrastruktur di bidang energi terbarukan.

Kedua, pemahaman dan kesadaran publik yang lebih mendalam diharapkan dapat meningkatkan permintaan maupun desakan untuk menggunakan energi terbarukan, alih-alih mempertahankan sumber energi yang bukan hanya menyebabkan sejumlah masalah kesehatan.

Mendesak Senjakala Batubara di Era Jokowi Jilid DuaIlustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Selain peran meningkatkan pemahaman publik, inovasi dan gebrakan yang dilakukan para pelaku usaha di bidang energi terbarukan juga perlu didukung.

Publik perlu mendengar bahwa dengan segala tantangan, kendala, kebijakan dan regulasi yang membatasi ruang gerak investasi energi terbarukan, upaya-upaya untuk beralih dan mendukung transisi energi tetap dilakukan.

Kita juga telah membaca dengan jelas dampak-dampak mengerikan pada kesehatan yang ditimbulkan akibat energi fosil. Karena itulah, melakukan transisi adalah pilihan untuk masa depan. Kita harus beralih dan membiarkan batu bara menemui senjakalanya sebagaimana yang sudah dilakukan negara-negara di dunia.

[Gambas:Video CNN] (asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS