Operasi 2020, Progres Proyek PLTU Batang Capai 83 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 10:45 WIB
Operasi 2020, Progres Proyek PLTU Batang Capai 83 Persen Ilustrasi PLTU Batang. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kemajuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang, Jawa Tengah telah mencapai 83 persen. Progres pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 2.000 MegaWatt (MW) itu diklaim telah sesuai rencana.

"Saya kira, (sekarang), tinggal pekerjaan-pekerjaan kecil," ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Munir Ahmad, Kamis (26/9).

Rencananya, pengoperasian proyek yang merupakan bagian dari megaproyek 35 ribu MW itu akan dilakukan sekitar Mei-Juni 2020. Pengoperasiannya akan dilakukan secara bertahap. Pertama, 1x1.000 MW lalu pada November 2020 akan dioperasikan 1x1.000 MW sisanya.


"Tahun depan, operasi (awal) baru 1.000 MW. Nanti, November 1.000 MW lagi. Jadi, tahun depan langsung 2000. Jedanya 6 bulan," tuturnya.

Dalam pembangunannya, Kementerian ESDM akan mengeluarkan rencana impor barang yang dengan ketentuan Tingkat Kandungan Domestik Negeri (TKDN) yang disyaratkan oleh Kementerian Perindustrian.

Proyek PLTU Batang sendiri merupakan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan investasi senilai US$4,2 miliar listrik sekitar Rp58,8 triliun (asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS).

Proyek ini dikerjakan oleh PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), yang merupakan anak usaha PT Adaro Energy Tbk, sebagai kontraktor pelaksana. Dalam hal ini, BPI menanggung sekitar 20 persen dari total kebutuhan investasi. Sementara itu, sisanya disediakan oleh Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar US$1,92 miliar (48 persen dari biaya investasi) dan konsorsium bank sebesar US$1,28 miliar (32 persen dari nilai investasi).

Proyek ini digadang-gadang sebagai proyek KPBU Listrik terbesar di Asia, dengan kapasitas sebesar 2 x 1.000 megawatt (MW). Proyek ini juga diklaim lebih efisien karena menggunakan teknologi ultrasuper critical yang mampu menekan penggunaan bahan bakar.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)