Tekan Ongkos Logistik, Bukit Asam Bakal Akuisisi Tambang Baru

CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 15:30 WIB
Tekan Ongkos Logistik, Bukit Asam Bakal Akuisisi Tambang Baru Bukit Asam bakal mengakuisisi tambang di luar Pulau Sumatera untuk menekan ongkos logistik. (CNN Indonesia/Muhammad Amas).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan tambang pelat merah PT Bukit Asam Tbk berencana mengakuisisi tambang di luar Pulau Sumatera. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya logistik.

"Kami memang ada rencana untuk melakukan akuisisi tetapi kami lakukan dengan selektif dan di luar lokasi yang kami miliki saat ini," ujar Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin seperti dikutip dari Antara, Senin (28/10).

Saat ini, tambang-tambang Bukit Asam di Sumatera memiliki cadangan batu bara sekitar tiga miliar ton. Namun, sambung ia, terdapat permasalahan logistik di pulau tersebut mengingat transportasi yang digunakan adalah kereta api.


Menurutnya, biaya angkut kereta api relatif lebih mahal dibandingkan kapal tongkang maupun alat transportasi lain yang melalui sungai.

Sebagai gambaran, hingga September 2019, perusahaan mencatat beban pokok penjualan sebesar Rp10,5 triliun atau meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp9,4 triliun.

Sementara itu, biaya angkutan kereta api menjadi salah satu komponen yang mengalami kenaikan terbesar pada beban pokok penjualan. Hal itu terjadi seiring dengan peningkatan volume angkutan batu bara.

Karenanya, perusahaan akan memilih lokasi tambang baru di luar Sumatera sehingga bisa mengurangi biaya logistik.

Sebagai informasi, hingga September 2019, produksi perusahaan menanjak 10 persen menjadi 21,6 juta ton. Dari sisi penjualan, perusahaan tambang pelat merah itu mencatatkan kenaikan sebesar 11 persen menjadi 20,6 juta ton.
[Gambas:Video CNN]
Kenaikan penjualan tersebut tak lepas dari strategi penjualan dengan menyasar ekspor batu bara ke beberapa negara seperti India, Hong Kong, Filipina, Jepang, dan Korea Selatan.

Dengan kinerja tersebut, perusahaan membukukan laba bersih kuartal III 2019 sebesar Rp3,1 triliun atau merosot 21,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp3,92 triliun.
(Antara/sfr)