Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan penyumbang terbesar kedua berasal dari sektor konstruksi yang sebesar 3,6 persen dan pertambangan 3,1 persen. Beruntung, kata dia, rata-rata NPL perbankan nasional masih di kisaran 2,6 persen-2,7 persen.
"NPL masih 2,6 persen-2,7 persen. Waktu krisis global 2008 dan resesi global 2009 NPL bahkan lebih tinggi dari itu," kata Fauzi, Senin (4/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika itu benar terjadi, artinya ada kenaikan NPL dari posisi akhir 2018 lalu yang sebesar 2,37 persen. Namun, ia yakin kenaikan itu hanya bersifat sementara.
Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) La Ode Saiful Akbar mengakui NPL dari sektor konstruksi memang cukup tinggi. Ini terjadi karena perusahaan konstruksi swasta seringkali hanya menjadi subkontraktor proyek infrastruktur.
[Gambas:Video CNN]
"Ada satu masalah yang jadi fundamental di konstruksi, masalahnya adalah pekerjaan konstruksi itu dikuasai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," kata La Ode.
Terlebih, BUMN memiliki sejumlah anak dan cucu usaha yang biasanya turut dilibatkan dalam mengerjakan proyek infrastruktur. Dengan begitu, lahan bagi swasta pun semakin kecil.
"Tiga bulan ini NPL kami meningkat," pungkas dia.