Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.044 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Rabu, yakni Rp13.992 per dolar AS. Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS.
Tercatat, peso Filipina dan yuan China menguat dengan nilai masing-masing sebesar 0,13 persen, dolar Singapura yang menguat 0,10 persen, dan ringgi Malaysia menguat 0,07 persen. Selanjutnya, Rupee India terpantau menguat 0,07 persen, yen Jepang juga menguat 0,03 persen, dolar Hong Kong 0,03 persen, serta lira Turki 0,02 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasar terus mengamati perkembangan dalam negosiasi perdagangan AS-China. China mengindikasikan siap untuk merundingkan berapa tarif yang harus dibatalkan," kata Ibrahim saat diwawancarai CNNIndonesia.com, Kamis (7/11).
Sementara itu, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menandatangani kesepakatan perdagangan sementara masih ditunda hingga Desember.
[Gambas:Video CNN]
Dari sisi domestik, Ibrahim mengatakan cadangan devisa Oktober 2019 yang naik menjadi US$126,7 miliar dari bulan sebelumnya US$124,3 miliar, juga memberikan sentimen positif terhadap penguatan rupiah.
"Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang tetap baik," tuturnya.
Lebih lanjut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali menguat, Jumat (7/11) besok. Ia memperkirakan penguatan akan berada di kisaran Rp13.970- Rp14.030 per dolar AS. (ara/agt)