Mendag Bidik Ekspor Tumbuh Dua Digit pada 2020

CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 13:00 WIB
Mendag Bidik Ekspor Tumbuh Dua Digit pada 2020 Agus Suparmanto. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menargetkan nilai ekspor Indonesia melonjak hingga dua digit pada 2020 mendatang. Untuk mencapai itu, pemerintah kini sedang mengevaluasi sejumlah perundingan perdagangan internasional.

"Ekspor tahun depan pasti bisa lebih tinggi, kami akan bahas karena menyangkut program tahun depan. Mudah-mudahan bisa dua digit," terang Agus, Kamis (7/11).

Agus bilang pemerintah akan mengandalkan kerja sama perdagangan internasional untuk mengerek ekspor. Hanya saja, ia tak menyebut spesifik perjanjian perdagangan apa saja yang saat ini sedang dievaluasi.


"Datanya lagi kami kumpulkan karena sedang ada perundingan-perundingan dengan negara lain yang akan menambah nilai ekspor," ucapnya.

Selain dari perdagangan internasional, Agus menyatakan pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga (K/L) lain agar nilai ekspor melonjak pada 2020 mendatang.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede pesimistis target pemerintah akan tercapai. Masalahnya, tren ekspor di Indonesia bukannya naik tapi semakin menurun beberapa waktu terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor pada September 2019 hanya US$14,1 miliar. Angka itu merosot 1,26 persen dari posisi Agustus 2019 yang mencapai US$14,28 miliar dan 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain karena tren ekspor menurun, kondisi ekonomi global yang melambat juga mengganggu perdagangan dunia, termasuk Indonesia. Permintaan dari global otomatis menurun ketika ekonomi bergerak melemah.

"Kalau lihat ekonomi China dan Amerika Serikat (AS) mitra dagang Indonesia ini kan pertumbuhan ekonominya melambat. Makanya saya agak pesimistis kalau target bisa tercapai," tutur Josua.

Tercatat, ekonomi AS pada kuartal III 2019 hanya tumbuh 2 persen atau melambat dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,1 persen dan kuartal II 2019 sebesar 2,3 persen.

Begitu juga dengan China, di mana ekonominya hanya meningkat 6 persen atau melambat dari kuartal II 2019 sebesar 6,2 persen dan kuartal III 2018 sebesar 6,5 persen.

Selain itu, perang dagang antara AS dan China yang belum menemukan titik temu juga berpengaruh pada ekonomi dunia. Sebelumnya, kedua negara sepakat meneken kesepakatan perdagangan tahap pertama bulan ini, tapi diundur menjadi Desember 2019.

"Penandatanganan perang dagang juga diundur, jadi mungkin kalau memang mau ekspor naik dua digit harus ada kebijakan insentif untuk dorong pelaku usaha ekspor," kata Josua.

Di sisi lain, Ekonom BCA David Sumual berpendapat target pemerintah terkait ekspor dua digit bisa saja tercapai asalkan AS dan China segera menandatangani perjanjian kesepakatan perang dagang fase pertamanya. Sebab, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi ekonomi dan perdagangan dunia.

"Kalau perang dagang berakhir ini memungkinkan ekspor Indonesia naik. tapi bukan hanya itu, Indonesia juga harus mencari tujuan pasar lain," ucap David.

Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong agar pengusaha tak lagi bergantung dengan ekspor komoditas. Pasalnya, mayoritas harga komoditas masih turun di tengah perang dagang AS dan China.

"Kalau bergantung pada komoditas susah karena harga kan rendah," pungkas David.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)