Tercatat, laju ekonomi Indonesia melambat ke posisi 5,02 persen pada kuartal III 2019, dibandingkan 5,05 persen pada kuartal sebelumnya.
Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu mengungkapkan porsi debitur dengan tingkat risiko tinggi dan sangat tinggi tercatat sebanyak 46 persen. Sementara, 54 persen adalah debitur dengan risiko kredit rendah dan sangat rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Survei BI, Harga Hunian Masih Sulit Tumbuh |
"Kami pernah sampaikan di awal tahun ini, agar perbankan lembaga pembiayaan lebih berhati-hati menyalurkan kredit karena kami melihat risiko kredit cukup tinggi. Itu kami buktikan sekarang risiko kredit masih tinggi untuk debitur yang risiko tinggi dan sangat tinggi," katanya.
Lihat juga:Jerman dan Inggris Terancam Resesi Ekonomi |
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan perlambatan ekonomi Indonesia tak terlepas dari pengaruh ketidakpastian ekonomi global. Imbasnya, ekonomi global juga turut melambat.
"Realitanya, suka tidak suka, pertumbuhan ekonomi dunia memang melambat, tapi Indonesia termasuk negara yang berhasil memitigasi perekonomian dari perlambatan ekonomi yang terjadi di dunia," ujarnya.
Di sisi lain, terjadi peningkatan rasio NPL secara gross dari Juli 2019 sebesar 2,55 persen menjadi 2,60 persen pada Agustus 2019.
"Tapi kalau kita lihat rasio kecukupan modal (CAR) dibulatkan 23,93 persen. Kemudian, NPL 2,6 persen itu menurut saya sangat sound in dari sisi kesehatan perbankan," tutur Iskandar.
[Gambas:Video CNN] (ulf/bir)