"Bagaimana agar bisa menekan sebanyak mungkin (impor), mengurangi sebanyak mungkin angka defisit yang ada. Pada saat bersamaan bisa memperbesar surplus neraca perdagangan dengan menggenjot ekspor dan pengembangan pariwisata yang mendatangkan devisa," tegas dia saat rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (11/11).
Dari sisi impor, ia kembali melontarkan beberapa kebijakan yang harus dijalankan para menteri. Pertama, mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), yang selama ini menjadi penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Maksud Amarah Jokowi di Balik Impor Cangkul |
Apalagi, investasinya tidak cuma mengurangi impor, namun juga mampu menciptakan lapangan kerja. Belum lagi, sumbangsihnya terhadap sektor ekspor di masa mendatang.
"Saya juga ingin mengingatkan agar kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam proyek pemerintah. Ini harus dioptimalkan," jelasnya.
"Perjanjian perdagangan dengan negara-negara potensial yang jadi tujuan ekspor kita, segera selesaikan," ucapnya.
Kendati begitu, Jokowi ingin para menteri juga tetap menindaklanjuti perjanjian perdagangan internasional dengan negara-negara yang baru menjadi pasar bagi Indonesia. Pasalnya, menurut Jokowi, perluasan pasar tetap diperlukan ketika risiko perlambatan ekonomi meningkat.
Hal ini dimaksudkan agar Indonesia tidak bergantung pada satu dua negara saja dalam meningkatkan kinerja ekspor. Sehingga, ketika ekonomi beberapa negara mitra dagang utama melambat, Indonesia masih punya bantalan ekspor dari negara-negara lain.
Lebih lanjut, untuk meningkatkan kinerja ekspor, maka Indonesia perlu pula melakukan kegiatan promosi ke sejumlah negara. Promosi, bisa dilakukan melalui perwakilan atase perdagangan Indonesia di berbagai negara hingga mengikuti pameran perdagangan internasional.
"Promosi produk ekspor maupun pariwisata dan investasi agar betul-betul kuat dengan membangun brand image yang baik dan terintegrasi, sehingga pameran yang dilakukan bisa mendatangkan manfaat," tuturnya.
Ia juga mendorong keikutsertaan Indonesia dalam pameran ekspor, pariwisata, dan investasi berskala internasional benar-benar disiapkan dengan matang. Ia tak ingin Indonesia banyak menghabiskan anggaran untuk mengikuti pameran tak potensial, misalnya pameran berskala kecil.
Tak ketinggalan, dalam rangka mendatangkan devisa guna memperbaiki defisit neraca perdagangan, ia ingin jajaran menteri juga fokus membenahi kualitas sumber daya manusia (SDM). Khususnya, bagi mereka yang bekerja di bidang jasa pariwisata.
"Penguatan SDM secara besar-besaran perlu dalam memperkuat ekspansi dan ekspor di sektor jasa. Jangan lupa, kita punya unicorn, decacorn yang juga merambah ke luar negeri," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/bir)