Keinginan ini, katanya, terinspirasi dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dikisahkan oleh Sekretaris Departemen Perdagangan AS Wilbur Ross. Ross, kata Jokowi, menyebut jajaran menteri AS baru diizinkan menerbitkan satu aturan baru asal turut mencabut dua aturan lain.
"Di sini semestinya juga bisa dilakukan itu, menteri kalau keluarkan satu permen, juga mencabut 40 permen, karena permen di sini terlalu banyak, banyak sekali. Tolong ini mulai dikaji, keluarkan satu permen, potong berapa permen," ungkap Jokowi saat rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (11/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika ada (regulasi) yang menghambat, segera dipangkas atau diusulkan untuk dipangkas kepada presiden," tekannya.
Selain itu, ia turut mengingatkan seluruh kementerian/lembaga agar mampu mengomunikasikan kebijakan omnibus law ke para pemimpin daerah. Khususnya, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.
"Oleh sebab itu, reformasi yang dilakukan di tingkat pusat harus bergulir ke provinsi, kabupaten, kota, baik dari sisi regulasi maupun kewenangan daerah dan juga sistem pelayanan birokrasi yang ada di daerah," terangnya.
Tak ketinggalan, reformasi birokrasi, katanya, juga harus diterapkan ke sumber daya manusia yang menjalankan tugas. Ia ingin orientasi kerja para Pegawai Negeri Sipil (PNS) berubah dari prosedur ke hasil.
"Jangan sampai kita masih bertele-tele di prosedur tapi goal-nya justru tidak dilihat," tekannya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)