Strategi yang disebutnya dengan istilah '5C' ini akan membantu Indonesia mengubah pola pikir dari konsumen menjadi produsen produk halal. Hal ini penting mengingat besarnya potensi pasar produk halal di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
"Menurut saya, kita punya potensi dan bisa melakukannya bersama-sama," kata Perry di acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di JCC, Jakarta, pada Kamis (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, C untuk certification atau sertifikasi. Menurutnya, produk barang dan jasa berbasis halal penting mengantongi sertifikat halal sehingga dapat dipercayai masyarakat muslim.
Untuk itu, pemerintah perlu menyiapkan badan sertifikasi halal beserta laboratorium pendukung.
"Kita harus bekerja sama dalam membangun ekosistem halal. Kita harus mengumpulkan zona ekonomi makanan halal, halal tourism, dan lainnya," tuturnya.
Keempat, C untuk campaigning atau kampanye. Dalam hal ini, pelaku perlu mempromosikan produk dan jasa dari Indonesia ke dunia internasional. Salah satunya dengan cara menonjolkan sisi nilai tambah dari suatu produk.
"Misalnya, dalam memakai hijab itu bisa dinilai dari sisi fashion-nya, buat menjadi suatu tren global. Jadi, memakai hijab itu bisa cantik," ujarnya.
Terakhir, C untuk cooperation atau kerja sama secara internasional. Perry menilai dalam meningkatkan perekonomian syariah dan mendorong perekonomian halal secara global, Indonesia tidak dapat melakukannya seorang diri.
Ia mengingatkan, saat ini, potensi pasar industri halal global semakin meningkat sejalan dengan populasi penduduk muslim sebanyak 1,84 miliar atau sekitar 24,4 persen dari populasi dunia.
Menurut Global Islamic Economy Report, pada akhir 2023, industri makanan halal akan bernilai US$ 1,8 triliun, industri pariwisata halal akan bernilai US$274 miliar, dan industri mode halal akan bernilai US$361 miliar.
"Market-nya (ekonomi halal) sangat besar, maka kita perlu kerja sama antar negara, supaya kita bisa memenuhi pasar global," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)