Urung Teken Perjanjian, Perang Dagang AS-China Alot Lagi

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 09:24 WIB
Urung Teken Perjanjian, Perang Dagang AS-China Alot Lagi Presiden China Xi Jinping saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. (AFP/Nicolas Asfouri).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut urung menandatangani perjanjian perdagangan parsial yang dijadwalkan pada pekan depan. Alasannya, kedua pihak menemui jalan buntu saat bernegosiasi untuk mengakhiri perang dagang di atas kertas.

Informasi tersebut disampaikan oleh sumber CNN.com yang namanya enggan diungkap. Tetapi, ia menuturkan hingga kini tidak jelas kapan naskah perjanjian perdagangan akan ditandatangani Trump dan Xi.

Penandatanganan yang seharusnya dilakukan di Chile dibatalkan pada bulan lalu karena aksi protes di tenggara Amerika Selatan itu berakhir ricuh. Kemudian, beberapa hari terakhir ini, kedua pemimpin negara diketahui berselisih atas isi perjanjian dagang.

Rincian yang dipermasalahkan, antara lain jumlah produk pertanian yang akan dibeli China dari AS. China dikabarkan menolak memasukkan sejumlah komitmen pembelian, meskipun Trump sudah mematok di kisaran US$40 miliar-US$50 miliar.

Kedua pihak juga disebut gagal mencapai kesepakatan tentang tingkat keringanan tarif, perlindungan kekayaan intelektual, dan transfer teknologi. Padahal, hal-hal tersebut merupakan tuntutan utama AS terhadap China sejak genderang perang dagang dimulai.

Perselisihan Trump dan Xi menimbulkan pertanyaan mengenai kapan kesepakatan siap ditandatangani. Sebelumnya, Trump menegaskan hanya akan menyetujui kesepakatan yang baik, yang menjaga tarif.

Trump juga bilang AS belum menurunkan tarif miliaran dolar yang dipungut dari China. Trump bahkan tidak mengindahkan komentar banyak pihak mengenai guncangan pasar dan risiko terhadap bisnis dan investasi yang terjadi akibat mengibarkan bendera perang dagang.

Pertumbuhan ekonomi China sendiri mulai melambat pada kuartal ketiga ke level terendahnya dalam tiga dekade terakhir. Negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia tersebut dinilai paling terpukul dari perang dagang yang ditabuhkan Trump.
[Gambas:Video CNN]


(bir)