Sebenarnya, realisasi pembiayaan utang negara sudah melebihi target awal. Kemenkeu mencatat, per Oktober 2019, realisasi pembiayaan utang sudah mencapai Rp384,5 triliun atau 107 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Rp359,3 triliun.
Pertumbuhan permbiayaan utang Januari-Oktober 2019 tercatat 14,2 persen dari periode yang sama tahun lalu. Hal ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu, di mana pembiayaan utang justru terkontraksi 18,8 persen secara tahunan. Kala itu, jumlah utang yang ditarik 'cuma' sekitar Rp336,8 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai akhir 2019 kalau sesuai rencana masih ada dua kali lelang Surat Utang Negara (SUN) dan satu kali Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)," ucap Suahasil, Senin (18/11).
Ia mengatakan opsi penerbitan utang jelang akhir tahun bisa dilakukan pemerintah bila kebutuhan belanja kian meningkat dan mendesak. Pasalnya, kementerian ingin memenuhi kebutuhan likuiditas agar realisasi belanja masing-masing kementerian/lembaga mendekati target pagu anggaran.
Hanya saja, Suahasil menggarisbawahi opsi penerbitan utang sejatinya akan diambil pemerintah bila kondisi ekonomi memungkinkan. Pemerintah, katanya, akan menerapkan prinsip oportunis dalam menerbitkan utang kepada sumber utang dari dalam maupun luar negeri.
"Strateginya oportunis, kami mencari timing (waktu) yang pas, harga yang pas, dan kondisi yang pas untuk masuk ke pasar, untuk mendapatkan yield dan suku bunga yang paling rendah untuk APBN," terangnya.
Selain itu, pemerintah, sambungnya, akan menerbitkan utang dengan hati-hati. Sebab, pemerintah perlu mempertimbangkan jumlah utang yang sudah dimiliki saat ini lengkap dengan jatuh tempo pengembalian utang yang harus dipenuhi.
Lihat juga:Defisit APBN Tembus Rp289 T per Oktober 2019 |
"Nanti kami detailkan (rencana penerbitan utang) dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR). Tapi kami akan tetap gunakan (kesempatan) dengan oportunis itu tadi," tekannya.
Selain itu, ia mengatakan keputusan penerbitan utang juga tetap dilakukan secara matang dengan turut mempertimbangkan dari mana sumber utang hingga risikonya bagi pengelolaan APBN ke depan. Pasalnya, pemerintah menaruh target defisit keuangan yang cukup rendah pada tahun depan, yakni 1,76 persen dari PDB.
Bila kewajiban pembayaran utang meningkat, sementara penerimaan negara masih seret dan belanja cukup tinggi, maka bukan tidak mungkin utang yang ditarik harus ditutup lagi oleh utang baru. "Makanya, kami lihat sampai Desember nanti seperti apa proyeksinya," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)