Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.091 per dolar AS yang juga melemah dibandingkan posisi Senin (18/11), yakni Rp14.075 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat, peso Filipina melemah 0,37 persen, won Korea 0,29 persen, dan yen Jepang juga melemah 0,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan oleh sentimen negatif dari pesimisme pasar atas jalannya kesepakatan dagang antara AS dan China.
"China pesimis tentang menyetujui kesepakatan, yang menunjukkan risiko ekonomi global tetap sulit dipahami," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (19/11).
Padahal, lanjut Ibrahim, pasar sendiri punya harapan yang tinggi atas terjadinya kesepakatan dagang 'fase satu' AS dan China yang diprediksi dapat mengurangi dampak perang dagang selama 16 bulan.
Sementara Itu, dari sisi domestik, Ibrahim mengatakan data ekonomi dalam negeri yang positif masih memiliki peran untuk menahan laju pelemahan rupiah.
[Gambas:Video CNN]
Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri telah mengumumkan hasil neraca perdagangan negara yang surplus US$160 juta. Namun, Ibrahim merasa sentimen tersebut masih belum cukup untuk mengalahkan sentimen negatif dari perang dagang.
"Pasar kembali fokus terhadap data eksternal yang kurang menguntungkan," ungkapnya.
Lebih lanjut Ibrahim berpendapat rupiah akan kembali melemah dalam perdagangan Rabu (20/11) besok, di kisaran Rp14.062 hingga Rp14.115 per dolar AS. (ara/bir)