Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.112 per dolar AS yang juga melemah dibandingkan posisi Rabu (20/11), yakni Rp14.097 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, peso Filipina menguat 0,20 persen, yen Jepang 0,09 persen, rupee India 0,07 persen, dan dolar Singapura 0,05 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Melemah ke Posisi 6.117 |
Meskipun menguat, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah tidak akan berlangsung lama. Hal tersebut disebabkan oleh sentimen negatif perjanjian dagang antara AS dan China yang memanas.
"Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan menandatangani RUU yang mendukung pengunjuk rasa Hong Kong," kata Ibrahim saat dihubungi Kamis (21/11).
Sementara itu, dari sisi domestik, Ibrahim menyebut pelaku pasar memperhatikan kebijakan Bank Indonesia juga memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah untuk Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah sebesar 50 bps sehingga masing-masing menjadi 5,5% dan 4,0%, dengan GWM Rerata masing-masing tetap sebesar 3,0%, dan berlaku efektif pada 2 Januari 2020.
Namun, Ibrahim merasa sentimen tersebut masih belum dapat mengalahkan sentimen negatif dari sisi eksternal.
Lebih lanjut, Ibrahim berpendapat dalam perdagangan Jumat (23/11) besok, rupiah diperkirakan melemah di kisaran Rp14.075 hingga Rp14.140 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (ara/bir)