BI Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Tinggi

CNN Indonesia | Jumat, 22/11/2019 06:59 WIB
BI Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Tinggi Gubernur BI Perry Warjiyo mengklaim daya beli masyarakat masih tinggi dan masih akan menopang pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menepis anggapan pelemahan daya beli masyarakat sejalan dengan rendahnya inflasi atau tingkat kenaikan harga komponen pengeluaran. Bank sentral nasional justru memperkirakan konsumsi rumah tangga menjadi penopang kuat pertumbuhan ekonomi sejalan dengan masih tingginya daya beli masyarakat.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan persoalan daya beli masyarakat seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi inflasi, namun juga tingkat pendapatan yang diterima masyarakat. Bila pendapatan masih meningkat, maka daya beli ikut terjaga.

"Daya beli adalah pendapatan nominal dibagi inflasi, sehingga inflasi rendah ini jelas meningkatkan daya beli," ucap Perry di Kompleks Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/11).

Lebih lanjut ia melihat daya beli masyarakat masih terjaga. Bahkan, bisa menopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang kuat, sehingga turut mendukung perekonomian Tanah Air.

Menurut Perry, indikasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih cukup kuat tercermin dari tingginya kemampuan konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah. Hal ini tak lepas dari program bantuan sosial (bansos) yang dilakukan pemerintah.

Misalnya, Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). "Bansos menopang konsumsi segmen pendapatan rendah," imbuh dia.

Kemudian, konsumsi rumah tangga juga ditopang oleh peningkatan porsi masyarakat berpendapatan menengah di kisaran US$2,97 sampai US$8,44 per hari. Berdasarkan data BI, jumlah masyarakat berpendapatan menengah ini naik dari 23 persen pada 2008 menjadi 61,5 persen pada 2019.

"Jadi semakin besarnya middle income ini yang juga topang daya konsumsi masyarakat. Konsumsinya cukup besar, ini terefleksi juga pada penjualan ritel yang non durable," terang dia.

Selain itu, Perry mengatakan inflasi yang rendah sejatinya merupakan modal bagi peningkatan konsumsi rumah tangga. Ia memperkirakan inflasi hanya berada di kisaran 3,1 persen pada akhir tahun.

"Saat ini, hampir 60 persen dari konsumsi rumah tangga, ini masih akan stabil dan menjadi daya dukung pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Sementara BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,1 persen pada 2019. Sedangkan pada tahun depan bergerak di rentang 5,1 persen sampai 5,5 persen.
[Gambas:Video CNN]


(uli/bir)