"(Inflasi) ini salah satu ukuran kami apakah kami bisa memiliki keluwesan untuk menurunkan (suku bunga acuan)," kata Erwin saat melakukan rapat kerja (raker) terkait strategi dan program kerja BI 2019-2020 dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (11/11).
Ketika suku bunga rendah, semakin banyak pihak yang meminjam uang dan memicu peningkatan jumlah uang beredar. Kondisi itu berisiko mengerek inflasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu berisiko memicu pelarian modal (capital outflow) yang dapat menekan nilai tukar.
"Kami tidak bisa menurunkan begitu saja (suku bunga acuan) sehingga kami mungkin kalah dengan negara peer kita. Jangan sampai capital outflow ke negara-negara tersebut," ungkapnya.
"Oleh karena itu, pemerintah dan BI mengajak surat berharga retail, mengajak dana pensiun, asuransi untuk meningkatkan proporsi domestiknya," ungkap Dody.
Pada tahun ini, bank sentral sendiri sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali dengan total 100 bps. Terakhir kali, pada September 2019, BI memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke posisi 5,25 persen. Tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility juga turun ke 4,75 persen dan 6,25 persen.
Dody menilai, saat ini, merupakan waktu yang tepat untuk BI menurunkan suku bunga acuan untuk mendorong perekonomian.
"Saatnya kami memberikan stimulus karena kami lihat sekarang momentum pertumbuhan risikonya bisa relatif kami kendalikan. Stabilitasnya bisa kami jaga," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)