BI Ungkap Alasan Suku Bunga Acuan Sulit Turun

CNN Indonesia | Selasa, 12/11/2019 09:06 WIB
BI Ungkap Alasan Suku Bunga Acuan Sulit Turun Erwin Rijanto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto mengungkap alasan bank sentral sulit memangkas suku bunga acuan. Menurutnya, keputusan tersebut perlu memperhitungkan sejumlah hal, salah satunya inflasi.

"(Inflasi) ini salah satu ukuran kami apakah kami bisa memiliki keluwesan untuk menurunkan (suku bunga acuan)," kata Erwin saat melakukan rapat kerja (raker) terkait strategi dan program kerja BI 2019-2020 dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (11/11).

Ketika suku bunga rendah, semakin banyak pihak yang meminjam uang dan memicu peningkatan jumlah uang beredar. Kondisi itu berisiko mengerek inflasi.

Selain inflasi, menurut Erwin, BI juga memperhitungkan porsi dana dari pihak asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) yang cukup besar, yaitu 37 persen. Begitu juga dana milik pihak asing di pasar modal porsinya mencapai 50 persen.


SBN merupakan surat pengakuan utang yang telah dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara. Apabila nilai tersebut rendah akibat suku bunga yang kecil, otomatis pendapatan negara pun berkurang.

Tak hanya itu, Erwin mengatakan BI juga harus mengkaji dan membandingkan nilai suku bunga Indonesia dengan negara berkembang lainnya seperti India, Filipina dan Malaysia. Sebab, dengan suku bunga acuan yang lebih rendah, otomatis imbal hasil yang diberikan Indonesia akan rendah.

Hal itu berisiko memicu pelarian modal (capital outflow) yang dapat menekan nilai tukar.

"Kami tidak bisa menurunkan begitu saja (suku bunga acuan) sehingga kami mungkin kalah dengan negara peer kita. Jangan sampai capital outflow ke negara-negara tersebut," ungkapnya.

Sementara itu, melihat porsi asing yang tinggi di SBN, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan BI akan fokus mencoba menstabilkan kondisi dengan menaikkan porsi domestik.

"Oleh karena itu, pemerintah dan BI mengajak surat berharga retail, mengajak dana pensiun, asuransi untuk meningkatkan proporsi domestiknya," ungkap Dody.

Pada tahun ini, bank sentral sendiri sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali dengan total 100 bps. Terakhir kali, pada September 2019, BI memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke posisi 5,25 persen. Tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility juga turun ke 4,75 persen dan 6,25 persen.

Dody menilai, saat ini, merupakan waktu yang tepat untuk BI menurunkan suku bunga acuan untuk mendorong perekonomian.

"Saatnya kami memberikan stimulus karena kami lihat sekarang momentum pertumbuhan risikonya bisa relatif kami kendalikan. Stabilitasnya bisa kami jaga," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)