"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 20-21 November 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRRR di posisi 5 persen," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/11).
Perry mengatakan keputusan ini dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3 persen pada tahun ini. Proyeksi ini terpengaruh hubungan dagang Amerika Serikat dan China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan indikator, ia menyatakan konsumsi rumah tangga sejatinya masih cukup terjaga akibat kebijakan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Begitu pula dengan proyek infrastruktur, khususnya dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Kendati begitu, ekspor dan impor masih cukup tertekan. "Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik pada kuartal IV 2019. Secara keseluruhan, pertumbuhan diperkirakan mencapa 5,1 persen," tuturnya.
Ketiga, cadangan devisa tercatat sebesar US$126,7 miliar. Jumlah ini setara pembiayaan 7,1 bulan impor dan di atas kecukupan internasional. Keempat, nilai tukar rupiah terapresiasi sebesar 2,03 persen dari awal tahun hingga akhir November 2019.
"Penguatan didukung pasokan valas dari eksportir dan aliran modal asing serta daya tarik ekonomi dan pasar uang," ungkapnya.
Perry melihat rupiah akan tetap stabil sesuai fundamental dengan bekerjanya mekanisme pasar yang lebih baik ke depan. Selain itu, turut dipengaruhi oleh menurunnya prospek ekonomi domestik dan daya tarik Indonesia di mata global.
Kelima, inflasi cukup stabil di 0,02 persen secara bulanan dan 3,13 persen secara tahunan pada Oktober 2019. Perkiraannya, inflasi berada di bawah titik tengah target sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen pada 2019.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)