Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.091 per dolar AS yang juga menguat dibandingkan posisi Jumat (22/11), yakni Rp14.100 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat, lira Turki Melemah 0,32 persen, yen Jepang 0,19 persen, dan ringgit Malaysia juga melemah sebesar 0,10 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Melemah ke 6.070 Awali Pekan |
Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah disebabkan oleh sentimen positif dari kemajuan kesepakatan dagang antara AS dan China akibat komentar Presiden AS Donald Trump.
"Pasar mencerna komentar Presiden AS Donald Trump tentang China. Hal tersebut meningkatkan harapan bahwa kedua belah pihak akan segera menandatangani kesepakatan perdagangan," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (25/11).
Lihat juga:Harga Cabai Mulai 'Tak Pedas' |
Selain itu, Trump juga mengindikasikan bahwa ia mungkin tidak menandatangani RUU yang disahkan minggu ini oleh kongres yang mendukung Hong Kong dalam upaya untuk menenangkan Beijing, sehingga memberikan tanggapan positif dari China.
Ibrahim mengatakan pihak pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sudah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan perekonomian yang sempat meredup akibat gejolak global. Upaya tersebut dilakukan baik melalui strategi bauran, reformasi birokrasi, reformasi keuangan, penurunan suku bunga acuan.
"Selain itu, BI juga melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan DNDF. Sehingga,membawa berkah bagi mata uang garuda yang kembali menguat di awal pekan, dan penguatan ini (juga) menjadi yang terkuat di Asia," tuturnya.
Lebih lanjut, Ibrahim memproyeksikan perdagangan Selasa (26/11) besok, rupiah kemungkinan akan menguat di kisaran Rp14.055 hingga Rp14.105 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (ara/age)