Jokowi Bakal 'Gigit' Pihak yang Doyan Impor Migas

CNN Indonesia | Jumat, 29/11/2019 12:16 WIB
Jokowi Bakal 'Gigit' Pihak yang Doyan Impor Migas Jokowi siap menggigit pihak yang senang impor migas. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) siap 'menggigit' pihak-pihak yang ketahuan doyan mengimpor minyak dan gas (migas). Ia mengaku sudah mengetahui siapa saja yang senang melakukan impor minyak dan LPG itu sehingga membuat defisit neraca perdagangan.

"Saya tahu yang impor siapa sekarang dan akan saya ganggu, pasti akan saya gigit orang itu. Tidak akan selesai kalau masalah ini tidak kita selesaikan,," ujar Jokowi di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat (29/11).

Sayangnya, Jokowi enggan menyebut pihak-pihak mana saja yang disebutnya doyan melakukan impor migas. Begitu pula dengan cara-cara nyata yang akan dilakukannya untuk mengganggu para importir itu.


Ia mengatakan pemerintah telah membuat sejumlah kebijakan untuk mengurangi impor. Pertama, melalui program mandatori campuran minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO) ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar sehingga menghasilkan biodiesel.

Saat ini, pemerintah sudah menjalankan program biodiesel 20 persen (B20). Tahun depan, penggunaan CPO dalam biodiesel akan meningkat menjadi B30.

Program biodiesel nantinya kian masih dengan penggunaan B50 hingga akhirnya menyentuh B100. "Artinya, impor minyak kita akan turun secara drastis, sehingga urusan neraca perdagangan dan transaksi berjalan jadi lebih baik," katanya.

Kedua, melakukan hilirisasi atas beberapa komoditas ekspor mentah, sehingga memberikan nilai tambah dan bisa menjadi bahan pengganti alias subtitusi dan bahan penolong di dalam negeri. Menurutnya, langkah ini tak hanya mengurangi impor, namun juga membuat roda industri baru berputar.

"Kita punya nikel, mangan, cobalt, itu harus diatur, sehingga bisa menjadi pemain besar di produksi mobil listrik. Kita senang ekspor raw material, tidak, itu setop. Kita kerjakan sendiri di sini," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Ketiga, mencari sumber energi baru, misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan memanfaatkan sungai-sungai yang ada di dalam negeri. Menurutnya, ini tidak hanya bisa menggantikan ketergantungan listrik pada batu bara dan gas impor, namun membuat industri lebih efisien.

"Sungai Kayak, itu kalau dibendung dengan hydropower (PLTA), biayanya hanya 2 sen, kalau batu bara 6 sen sampai 7 sen. Kekuatan ini membuat competitiveness (daya saing) kita bisa meningkat," tuturnya.

(uli/sfr)