Sektor Pengolahan Buat NPL Naik Jadi 2,73 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 29/11/2019 20:54 WIB
Sektor Pengolahan Buat NPL Naik Jadi 2,73 Persen OJK menyatakan rasio kredit bermasalah naik karena sektor industri pengolahan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross industri perbankan per Oktober 2019 di level 2,73 persen. Angka itu naik tipis dibandingkan September 2019 yang sebesar 2,66 persen.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo mengatakan kenaikan NPL gross industri perbankan dipengaruhi oleh sektor pengolahan yang meningkat dari 2,52 persen pada Desember 2018 menjadi 4,12 persen pada Oktober 2019.

"NPL gross sektor perdagangan juga naik dari 3,57 persen menjadi 3,92 persen. Kalau yang lain ada perikanan tapi tidak signifikan," katanya, Jumat (29/11).


Ia menjabarkan total penyaluran kredit ke sektor pengolahan meningkat dari Rp874 triliun pada Oktober 2018 menjadi Rp900 triliun pada Oktober tahun ini.

Secara keseluruhan, penyaluran kredit tumbuh 6,53 persen per Oktober 2019. Realisasi itu melambat dibandingkan September 2019 yang mencapai 7,8 persen.

"Paling dalam kredit turun di sektor tambang dan konstruksi. Yang lain meningkat," imbuh dia.

Untuk tahun depan, Edi menyatakan sejumlah perbankan pesimis dengan pertumbuhan kredit lantaran perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang terus berlanjut. Alhasil, beberapa perbankan menargetkan pertumbuhan kredit satu digit.

"Hasil pembicaraan dengan bank-bank ada yang pesimis dan yang optimis. Beberapa bank ada yang satu digit, tapi masih ada yang dua digit," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, premi asuransi jiwa tercatat sebesar Rp152,4 triliun per Oktober 2019. Kemudian, premi asuransi umum atau reasuransi sebesar Rp82,2 triliun.

"Risk based capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 705 persen dan 329 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan," papar Edi.

Selanjutnya, penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat sebesar Rp155 triliun. Sebagian dana itu berasal dari aksi korporasi berupa penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) yang dilakukan 48 perusahaan.

Kemudian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada pekan ketiga November 2019 ke level 6.100 dibandingkan dengan posisi Oktober 2019 yang masih di level 6.228.

(aud/agt)