Luhut Ajak BMW Bangun Pabrik Mobil Listrik di Indonesia

CNN Indonesia | Jumat, 29/11/2019 18:46 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan mengajak BMW untuk berinvestasi pada industri mobil listrik di Indonesia. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan mengajak BMW berinvestasi mobil listrik di Indonesia. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengundang produsen mobil asal Jerman Bayerische Motoren Werke (BMW) untuk berinvestasi pada mobil listrik. Hal ini disampaikan Luhut kala berkunjung ke kantor pusat pabrikan mobil BMW di Munchen, Jerman Kamis (28/11),

"Kami sadar, semakin banyak orang mengeluhkan tingginya polusi udara. Salah satu upaya kami adalah mengadakan transportasi ramah lingkungan yang efisien dan hemat biaya. Indonesia telah menetapkan target lebih banyak dari saat ini," ujar Luhut seperti dikutip dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (29/11).

Luhut menjanjikan sejumlah insentif untuk membangun pabrik mobil listrik seperti keringanan pajak. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk membangun lebih banyak stasiun isi ulang baterai kendaraan listrik.


"Karenanya kami berharap Anda (BMW) bersedia mempertimbangkan untuk membuka fasilitas pembuatan mobil listrik di Indonesia. Kami juga menginginkan adanya keragaman produsen, sehingga tidak ada monopoli satu merk saja," katanya.

Menurut Luhut, BMW bisa menghemat biaya jika membuka pabriknya di Indonesia. Pasalnya, Indonesia kaya sumber daya yang diperlukan.

"Mobil-mobil produksi BMW memakai CATL baterai dari Cina dan Samsung dari Korea Selatan, jika mereka pindah ke Indonesia mereka bisa langsung berhubungan dengan produsennya," kata Luhut.

Vice President Market Development Jochen Scharrer menyampaikan BMW telah memproduksi mobil elektrik sejak tahun 2014. Dirinya juga berharap jumlah produksi mobil listrik dan mobil hybrid dapat berimbang pada rentang 2020 hingga 2025 mendatang.

"Kami berencana meluncurkan 12 mobil listrik baru hingga tahun 2025. Problem kami, baik di Indonesia atau negara-negara lain untuk mengajak konsumen membeli mobil listrik yaitu kurangnya tempat pengisian daya. Pengguna mobil ini lebih suka mengisi daya di rumah atau mungkin di kantor," katanya.

[Gambas:Video CNN] (hns/sfr)