IPO Saudi Aramco Kelebihan Permintaan 1,7 Kali

CNN Indonesia | Senin, 02/12/2019 22:12 WIB
IPO Saudi Aramco Kelebihan Permintaan 1,7 Kali Saudi Aramco mengungkap IPO mereka mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed. (Fayez Nureldine / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan minyak Saudi Aramco mengungkap penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) mereka mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed. IPO Saudi Aramco diproyeksikan jadi yang terbesar di dunia mencapai US$25 miliar. Nilai IPO ini akan melebihi dari IPO Alibaba sekaligus yang terbesar di dunia.

Pada 17 November lalu, Saudi Aramco mengatakan akan menjual 1,5 persen perusahaan dalam penawaran umum perdana senilai US$24 miliar hingga US$25,6 miliar.

"Investor ritel, yang ditutup kemarin malam, mencapai US$12,6 miliar dengan hampir lima juta pelanggan untuk hampir 1,5 miliar lembar saham," ujar pernyataan resmi yang dikutip dari AFP.


Aramco mengatakan akan memesan sebagian saham IPO untuk investor institusi, termasuk perusahaan asing, investor individu, warga negara Saudi dan negara-negara Teluk.

Pernyataan tersebut mengungkap maksimal 0,5 persen dari 200 miliar saham akan diberikan kepada investor perorangan.  AFP menuliskan permintaan investor ritel dan penawar selama 12 hari pertama periode penawaran berjumlah lebih dari US$44,3 miliar. Jumlah ini sekitar 1,7 kali dari jumlah saham yang akan dilepas.

Rania Nashar, Wakil Ketua Samba Capital mengatakan tingginya tingkat partisipasi investor menjadi kebanggaan perusahaan. Selain itu, menjadi indikasi keberhasilan dan sinyal kepercayaan pasar.

Sementara itu, Aramco mengungkap tawaran dari investor institusi selama 12 hari pertama penawaran mencapai US$31,5 miliar.

Saudi Aramco menghasilkan sekitar 10 persen dari minyak dunia dan dianggap sebagai pilar stabilitas ekonomi dan sosial kerajaan Arab Saudi.

Valuasi saham Saudi Aramco, perusahaan minyak negara Arab Saudi, dibanderol US$1,71 triliun jelang penawaran saham perdana (IPO). Nilai tersebut meleset dari target awal yang dibidik Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebesar US$2 triliun.

Awalnya, Saudi Aramco diperkirakan menjual 5 persen saham di dua bursa, terdiri dari 2 persen di bursa dalam negeri, dan 3 persen di bursa luar negeri. Namun, perusahaan menyebut saat ini tidak ada rencana untuk melakukan penjualan saham internasional.

Ini sekaligus mengartikan bahwa perusahaan menunda rencana penjualan di pasar global untuk sementara waktu. Aksi korporasi Saudi Aramco melantai di bursa saham Riyadh ini pun sempat tertunda beberapa tahun.

[Gambas:Video CNN] (AFP/age)