"Kami bersyukur pemerintah dan Presiden (Joko Widodo/Jokowi) sudah mampu melakukan mitigasi yang bagus sehingga pertumbuhan (ekonomi) baik," kata Luhut di Jakarta, Selasa (3/12).
Selain tercermin dari pertumbuhan ekonomi, Luhut mengatakan mitigasi baik juga bisa dilihat dari data angka pengangguran dan kemiskinan. Sebagai informasi, data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita melihat trade war ini masalah. Kami lihat lebih pengaruhnya pada ekonomi global, ekspor dan lain-laiun. Kalau ini tidak dinavigasi dengan baik, kita akan masuk kemiskinan, penurunan pertumbuhan ekonomi dan pengangguran," katanya.
Ia menambahkan karena navigasi yang baik itulah, Indonesia hanya kalah dengan China dan Vietnam.
"Kita cuma masih kalah dari China dan Vietnam. Kalau yang lain, kita masih bagus. Bahkan, Singapura pertumbuhannya hampir nol, mungkin bisa minus (ke depan). Jepang juga begitu, (tapi) Indonesia masih bisa bertahan di 5 persen," ungkapnya.
Dengan investasi dari pembangunan Infrastruktur, lanjut Luhut, Indonesia dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengeluaran yang diharapkan dapat memajukan Indonesia.
"Kenapa infrastruktur itu dibangun? Karena ujung-ujungnya semua cost (pengeluaran). (Pengeluaran) kita masih tinggi. Jadi kalau kita mau negeri ini untuk cucu-cucu kita bagus, anda harus perhatikan itu. Bahwa kita punya kewajiban menurunkan cost. Pada akhirnya, cost effeciency dan efektivitas," tuturnya.
Selain pengeluaran, Luhut juga menjelaskan bahwa peningkatan nilai tambah (value added) menjadi penting untuk perkembangan ekonomi Indonesia.
"Kita berpuluh-puluh tahun baru di mining nickel dalam komoditi kita. Sekarang kita sudah dalam tahap refining nickel sulfate selama 5 tahun," tuturnya.
Dalam lima tahun ke depan, sambung Luhut, Indonesia mulai memproduksi baterai yang dapat digunakan sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT). Hal ini penting dan dibutuhkan di era kemajuan teknologi global.
"Dalam lima tahun ke depan, kita berharap kita bisa masuk produksi baterai. Kemarin kita dengan CATL, LGchem, LGEM, dengan Panasonic kita sudah kerja, dan kemarin sudah bertemu beberapa usaha di Jerman sudah mau (bekerja sama)," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr/sfr)