Garuda Indonesia Buka Suara Soal Angkut Mobil Ferrari Merah

CNN Indonesia | Sabtu, 07/12/2019 13:16 WIB
Garuda Indonesia Buka Suara Soal Angkut Mobil Ferrari Merah Garuda Indonesia buka suara soal Mobil Ferrari yang mereka angkut. (dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk buka suara atas video yang menggambarkan pesawat mereka mengangkut Mobil Ferrari. Vice President Corporate Secretary M. Ikhsan Rosan mengatakan mobil tersebut merupakan barang kargo yang secara legal diangkut dari Jakarta tujuan London Heathrow dengan pesawat Garuda Indonesia GA086 jenis B-777-300ER.

Mobil diangkut pada 9 Oktober 2018.

"Mobil Ferrari tersebut adalah milik seseorang yang menggunakan jasa kargo Garuda Indonesia untuk pengiriman dari Jakarta ke London. Mobil tersebut juga telah melalui prosedur kepabeanan resmi," katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Minggu (7/12).


Ia mengatakan video tersebut  diambil di bandara Heathrow London ketika Mobil Ferrari tersebut diturunkan dari pesawat.

"Selain mengangkut mobil dalam penerbangannnya, Garuda Indonesia juga pernah mengangkut Panda dengan penanganan khusus dari Chengdu, China ke Jakarta pada september 2017 lalu," katanya.

Kabar pesawat milik Garuda Indonesia membawa Mobil Ferrari ramai Kamis (5/12) kemarin. Kabar ini mengemuka setelah sebuah potongan video menyebar ke publik.

Dalam video tersebut, terlihat satu unit mobil Ferrari berwarna merah ada di bagian dalam salah satu pesawat Garuda. Kabar tersebut muncul tak lama setelah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menangkap basah upaya penyelundupan Harley Davidson dan Sepeda Brompton melalui pesawat Garuda yang baru didatangkan dari Prancis pada 17 November lalu.

[Gambas:Video CNN]
Setelah diselidiki, penyelundupan melibatkan Direktur Utama Garuda I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara. Atas keterlibatan tersebut, Menteri BUMN Erick Thohir memutuskan untuk memecat Ari dari posisinya.

Erick mengatakan penyelundupan Harley melalui pesawat Garuda tersebut cukup sistemik dan terencana.

"Itu kan ya sudah skenario lah. Itu kan wilayahnya Menteri Keuangan dan Dirjen," ujar Erick.

(agt)